Friday, 24 April 2015

“Senyum” untuk imunisasi

Nur Awwalia dan Wall of Fame Imunisasi. ©UNICEF Indonesia/2015 

Tembok Puskesmas Tanah Merah Bangkalan di Pulau Madura, Jawa Timur, penuh dengan poster-poster yang umum ditemui di sebuah klinik kesehatan. Tapi ada satu yang menonjol yaitu sebuah papan tulis putih sarat dengan foto-foto 25 bayi yang sedang tersenyum.

Bayi-bayi ini membentuk wadah pameran “Wall of Fame Imunisasi” di Puskesmas. Setiap bayi sudah menyelesaikan lima sesi imunisasi rutin gratis mereka, yang memberikan keamanan dari berbagai penyakit seperti difteri, TBC, hepatitis B, tetanus, polio dan campak.

Seorang bidan di puskesmas itu, Nur Awwalia, baru-baru ini memiliki ide untuk membuat poster tersebut. “Setiap orang tua senang memamerkan bayi mereka. Jadi kenapa tidak menggunakannya untuk mempromosikan imunisasi!” kata Nur.


Nur Awwalia –yang biasa disapa Lia- mengatakan ide itu datang ketika ia menyadari betapa kerabat dan kawan-kawannya bisa menjadi sangat kompetitif saat membanding-bandingkan bayi mereka. Ia berpikir sedikit kompetisi yang ramah bisa membantu meningkatkan angka imunisasi.

Lia memutuskan memasang Wall of Fame Imunisasi di sebelah poster-poster anak-anak penderita polio dan difteri, dua penyakit yang bisa dicegah hanya dengan memberikan anak lima sesi imunisasi.

“Saya rasa tidak ada seorang pun ibu atau ayah yang ingin bayinya menderita. Sulit untuk dijelaskan, tapi sangat efektif ketika menunjukkan penyakit-penyakit yang mungkin dialami bayi Anda jika tidak diimunisasi,” tuturnya.

Lia sudah bekerja di puskesmas itu sejak 2011. Harinya biasanya dimulai pada pukul 5 pagi dan dia menerima pasien sampai pukul 3 sore. Selain bekerja di puskesmas, Lia juga mengunjungi rumah-rumah pasien dan mengadakan pertemuan advokasi dengan orang tua.

Ibu-ibu berkumpul di Puskesmas Tanah Merah Bangkalan ©UNICEF Indonesia/2015

Sesi imunisasi dijadwalkan di puskesmas tersebut sebulan sekali. Pekerjaan itu cukup menantang bagi Lia dan para koleganya, karena tingkat imunisasi di Kabupaten Bangkalan adalah salah satu yang terendah di Indonesia.

Lia mengatakan para orang tua enggan membawa anak-anak mereka untuk menjalani sesi imunisasi rutin karena berbagai alasan, mulai dari takut akan efek sampingan hingga kesalah-pahaman budaya dan keberatan dari keluarga.
Itu hanya sebagian dari tantangan yang harus dihadapi Lia selama bertahun-tahun. Untuk membantu mengatasinya, ia menerima pelatihan teknis dari Dinas Kesehatan setempat dengan dukungan dari UNICEF. Hasilnya, ia kini memiliki lebih banyak bekal pengetahuan dan keterampilan dalam advokasi imunisasi di acara-acara masyarakat, baik dengan orang tua mau pun pemuka agama.

Lia sangat bangga dengan Wall of Fame Imunisasinya. Ia berharap wadah pameran itu akan semakin berkembang dalam hari, bulan dan tahun yang akan datang.

1 comment:

  1. Tanah merah berbenah,, semoga istiqomah
    menyehatkan anak bangsa dengan imunisasi dasar lengkap

    ReplyDelete