Thursday, 4 June 2015

Hari ini pelajar, esok pengantin

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer


Anak-anak perempuan di Desa Manggaru* beresiko menikah pada usia muda. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker.

Nira* yang baru berusia 14 tahun adalah pelajar yang cemerlang. Ia selalu rajin belajar dan unggul dalam berbagai mata pelajaran, mulai dari kesenian, ilmu pengetahuan alam, hingga ilmu pengetahuan sosial. Namun, masa-masa Nira sebagai pelajar akan segera berakhir. Besok adalah hari pernikahannya.

Nira tinggal di Desa Manggaru, sebuah desa kecil yang berada sekitar 70 km dari Jakarta. Pernikahan anak merupakan hal biasa di desa ini. Bahkan, Nira adalah siswi ketiga yang akan keluar dari bangku sekolah dan menikah tahun ini.

“Aku suka bermain petak umpet,” ucap Nira, saat diminta mendeskripsikan dirinya. Ia tampak yakin dengan keputusannya untuk menikah. “Kalau aku menunggu sampai lulus baru menikah, belum tentu aku bisa dapat pasangan. Terlalu lama buat dia (calon suami) untuk menunggu,” ujarnya.

Kepala Sekolah di Manggaru, Pak Deni, telah melihat secara langsung apa makna pernikahan yang sesungguhnya bagi para muridnya. “Kehamilan akan segera menyusul, perceraian sudah hal biasa, peluang karir semakin terbatas, banyak yang pada akhirnya menjadi pembantu rumah tangga,” kata beliau. “Dan kemiskinan akan terus melanda.”

“Orang tua di sini berpendapat bahwa menikahkan putri mereka dapat memberikan manfaat yang lebih besar daripada menamatkan sekolah mereka. Jika putri mereka dinikahkan, maka beban ekonomi dalam rumah tangga akan berkurang,” kata beliau.

Pak Deni sudah berusaha menghentikan pernikahan Nira yang akan segera berlangsung. Ia sudah memohon pada orang tua Nira untuk mempertimbangkan kembali dan memberikan kesempatan bagi Nira untuk menyelesaikan sekolahnya. Namun, usaha itu tidak membuahkan hasil. “Saya percaya bahwa sebenarnya tidak ada murid saya yang ingin menikah dini”, tambahnya. “Tak satupun dari mereka yang tampak kehilangan minat belajar sebelum pernikahan mereka.”

Ada undangan pernikahan Nira di meja Pak Deni. Beliau melirik pada undangan berwarna merah muda cerah tersebut. “Setiap kali saya melihat salah satu murid saya menikah, saya merasa gagal sebagai seorang pendidik,” ujarnya. “Saya merasa sangat bertanggung jawab. Ini benar-benar menghancurkan hati saya.”

Hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum Pak Deni mendapat kabar dari murid perempuan lainnya yang meninggalkan sekolah untuk menjadi pengantin muda. Tapi untuk saat ini, mereka memiliki cita-cita yang tinggi. Ada yang ingin menjadi guru, menjadi koki, pengusaha, dokter, dosen - daftar cita-cita itu terus berlanjut.

Sebagian besar profesi tersebut mengharuskan mereka untuk tidak hanya menyelesaikan sekolah saja, tetapi juga untuk mendapatkan gelar sarjana di tingkat universitas. “Saya ingin kuliah kalau ada uang,” ucap salah seorang anak. Sayangnya, melanjutkan pendidikan hingga tingkat universitas adalah sebuah kemewahan yang tak terjangkau bagi sejumlah keluarga di Manggaru. Pernikahan dipandang sebagai pilihan yang jauh lebih aman dari segi ekonomi.

Seorang anak bernama Desi mengatakan bahwa teman-teman sekolahnya tidak lagi menghabiskan waktu bersama mereka yang sudah menikah. “Tidak lama kemudian mereka akan hamil atau sibuk dengan anak-anak,” ucapnya. Dan menurut Desi, kecil kemungkinan bahwa Nira akan kembali bersekolah setelah menjadi seorang istri, karena “aneh saja (jika seorang yang sudah menikah masih bersekolah).”

Beberapa anak memberikan saran untuk Nira. “Jangan bertengkar dengan suami,” kata salah satu temannya. “Cepat punya anak,” kata teman yang lain. Di desa tersebut, memiliki anak adalah suatu pandangan yang menarik. Namun, tidak satu anak pun tahu persis bagaimana caranya seseorang bisa hamil.

Kehamilan dan persalinan di Manggaru penuh dengan resiko. Resiko ini semakin besar bagi perempuan yang masih berusia muda seperti Nira. Layanan dan sarana kesehatan masih sangat terbatas. Dokter terdekat pun berjarak hampir satu jam jika ditempuh dengan kendaraan.

Ketika seorang ibu di desa ini mulai memasuki masa persalinan, umumnya mereka berkunjung ke seorang paraji (dukun bersalin). Fasilitas yang dimiliki seorang paraji tentunya sangat terbatas dibandingkan dokter atau rumah sakit. Akibatnya, komplikasi parah atau bahkan kematian menjadi hal yang sering terjadi dalam proses bersalin.

Subyek pernikahan menimbulkan tanggapan yang beragam dari anak-anak laki di Manggaru. “Aku punya teman perempuan yang menikah saat baru berusia 11 tahun,” kata salah seorang anak. “Salah satu temanku menikah waktu usianya masih muda. Dia meninggal saat melahirkan,” kata anak yang lain.

Meskipun ada banyak kisah seperti itu, para murid laki-laki mengakui bahwa pernikahan seperti yang akan dialami Nira adalah hal yang "normal". Tak satupun dari mereka mengetahui tentang adanya usia minimum yang telah ditetapkan dalam Undang-undang Pernikahan negara ini.

Meski demikian, salah satu anak berkata, “Mestinya anak perempuan tidak boleh menikah saat usia 14 tahun. Dia mungkin masih ingin bermain dan bergaul dengan teman-temannya. Perempuan juga memiliki mimpi dan harapan mereka sendiri.”

Mimpi dan harapan Nira akan tertahan esok. Calon suaminya, Fadil, berusia 9 tahun lebih tua darinya. Fadil saat ini tidak memiliki pekerjaan. Rencana bagi masa depan pasangan ini tidak jelas. Namun Nira menegaskan bahwa menikahi Fadil adalah keputusan yang tepat.

“Tuhan mengirimkan aku untuk menjadi jodohnya,” Nira berkata. “Ini takdir.”

*Lokasi dan nama telah disamarkan.


Di Indonesia, satu dari 6 anak perempuan telah menikah sebelum berulang tahun yang ke-18, mengakibatkan pada berakhirnya masa kecil mereka secara tergesa dan membuat siklus kemiskinan terus berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

UNICEF mengadvokasi dan mendukung berbagai upaya untuk mengatasi pernikahan anak di Indonesia, menjangkau anak-anak, orang muda, keluarga, masyarakat serta pemerintah Indonesia.

72 comments:

  1. Yang bener aja? Orang tua kaya gitu mendingan suruh mati ato suruh sekolah aja dulu yang benr! Liat kaya ginian beneran bkn muak! Ngurangin beban ekonomi apa coba? Bilang aja kalo ortunya udah males urusin anaknya! Perempuan seusia gitu, harusnya emang belajar menuntut ilmu tinggi selangit bukannya dikungkung pernikahan! Apalgi usianya masih muda, dan oernikahan juga ngga menjamin dia bakal bahagia! Lebih parah, calon suaminya aja pengangguran, mana bisa memperbaiki ekonomi!

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Memang mudah ya mas/mbak, menghakimi penilaian seseorang terhadap sesuatu :)

      Delete
    3. Memang mudah ya mas/mbak, menghakimi penilaian seseorang terhadap sesuatu :)

      Delete
  2. Sangat di sayangkan apabila seorang anak yg masih belia dn mmpunyai masa dpan untk brkarya trnyata orangtua berharap hal lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa yg bs kami bantu untuk memperbaiki hal ini ?? Donasi dana atau bantuan lain ? Sy menunggu jawaban.. Terimakasih

      Delete
    2. lebih ke arah bantuan secara fisik berupa edukasi terhadap masyaarakat menengah ke bawah yang memiliki perspektif seperti masyarakat yg berada di artikel tsb mbak. untuk fiannsial, mungkin dapat dialokasikan untuk mengembangkan metodedan fasilitas pendukung pendidikan lainnya :)

      Keep Fighting. cukup miris juga dengar berita seperti ini. seorang anak muda menikahi pria yang berstatus 'pengangguran' dengan alasan supaya bisa meringankan beban keluarga.

      Delete
  3. Ini karena kurangnya pendidikan dan budaya yang kolot

    ReplyDelete
    Replies
    1. 👆 pendapatnya betul.. "budaya" itu akhirnya jd sebuah mindset

      Delete
    2. Pendidikan dan budaya... (y)

      Miris...

      Kalo alesan biaya sekolah, sekarang kalo emang rajin belajar dan ada niat, bidik misi dll udah banyak...

      Contohnya di IPB 80% mahasiswanya beasiswa.. jadi sebenarnya ini adalah masalah budaya menikah muda takut jadi perawan atau alesan ada yang bilang gegara agama.. miris..

      Delete
  4. Kejadian seperti ini seharusnya tidak terulang kembali. Seharusnya, bersama kita perbaiki asumsi keliru yang telah membudaya di masyarakat. Sangat menyedihkan melihat generasi muda memiliki pandangan yang keliru dan akhirnya merugikan diri mereka sendiri.

    ReplyDelete
  5. Jangan salahkan ortu saja pemerintah jg hrs tanggung jawab karna ini efek lingkaran kemiskinan ..yg tak mampu sejahterakan rakyatnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak beasiswa kok kalo emang ada niat belajar dan sekolah.. contohnya di IPB 80% mahasiswanya beasiswa dan 50% menengahvke bawah..

      Delete
  6. Jangan salahkan ortu saja pemerintah jg hrs tanggung jawab karna ini efek lingkaran kemiskinan ..yg tak mampu sejahterakan rakyatnya

    ReplyDelete
  7. Buat peraturan daerah aja disitu, semoga aja warganya ngikutin. Ditambah sosialisasi biar kejadian yang kayak gini ga terulang dimasa depan. Karna hal kayak gini, salah satu penyebab tingginya populasi penduduk

    ReplyDelete
  8. Kasihan sekali.... Seharusnya sebagai orangtua tidak langsung mengambil keputusan seperti itu,yang langsung menikahkan anaknya pada usia yang sangat muda. Calon suami pun blm bekerja,kalian mau makan apa? Tolonglah di pikirkan baik2,Nina pasti masih punya banyak mimpi dan cita2 yang tinggi. Pemerintah dan lembaga sosial masyarakat sebaiknya survey ke tempat tersebut dan sosialisasi kepada masyarakat tentang hal menikah muda seperti ini. Jangan sampai malah di jadikan kebiasaan untuk selalu menikahkan anaknya.

    ReplyDelete
  9. Sedih bgt liat yg seperti ini, banyak hal yg harus dibenahi didesa2 terpencil seperti ini khususnya untuk para orangtua diberikan sebuah arahan untuk kesuksesan sang anak, sbnrnya mereka paham bahwa pernikahan bukanlah hal yg dapat merubah kehidupan menjadi lebih baik tpi pendidikanlah yg menentukan kesuksesan mereka , tpi kembali lgi kemsalah ekonomi , sya yakin pemerintah sdng berusaha u/ menangani msalah ekonomi mrk tpi mungkin tdk akan berhasil jika cara pola fikir mrk tdk dirubah, jdi mnurut sya hal utama yg hrus dilakukan adlah memberikan arahan & pelajaran untuk mencapai sbuah ksuksesan dan hidup yg lebih baik.

    ReplyDelete
  10. Kita ambil pelajaran aja dr kisah nyata ini

    ReplyDelete
  11. Astagaa harusnya tidak seperti ini
    Perlu diadakan banyak sosialisasi di tempat itu

    ReplyDelete
  12. menurut sya hal ini bukan salah orang tua juga.. hal tersebut terjadi karena kurangnya wawasan sehingga pola mikir warga masih sederhana. Kegiatan penyuluhan mengenai, pendididkan, karir, wirausaha, kesehatan dan program pelatihan/pemberdayaan kewirausahaan dirasa perlu. Hal ini dilakukn dalam rangka merubah pola pikir warga serta kebudayaan desa tersebut

    ReplyDelete
  13. This is really crazy tp Kita tdk bs menyalahkan siapa pun (baik orang tua ataupun Nira). Hal itu tdk akan bs berhenti jk hanya sekedar "leave comment". Ambil pelajaran'nya dan mulai lakukan sesuatu walau hanya simple thing yg baik buat kita dan mereka tentunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agree. Blaming will affect nothing. :)

      Delete
  14. Benar-benar disayangkan. Bagaimana generasi muda kita mau jadi penerus bangsa, kalau penerusnya saja tidak ada karena harus menikah. Mungkin kasus ini bisa diatasi dengan cara merubah pola pikir masyarakat disana tentang arti pernikahan muda.

    ReplyDelete
  15. Ini menjadi tugas kita untuk mengubah paradigma masyarakat yang masih memiliki pola pikir kolot
    Mari bangkit dan wujudkan Indonesia Emas ei 2045

    ReplyDelete
  16. Semoga para org tua, pemerintah, atau org lain dluar sana, mmbaca artikel ini. Dan mereka sadar dg kondisi yg sprti ini shingga mereka sadar akn tanggung jwb mrka.

    ReplyDelete
  17. saya sebagai pelajar sangat kecewa, dikatakan bahwa pernikahan dini itu untuk mengurangi ekonomi, tetapi sama saja, lagipula ekonomi tidak dapat diberhentikan, belum nanti yang baru menikah kan pasti akan memiliki anak karena menurut mereka mempunyai anak adalah hal yang menarik, pasti mereka memiliki anak, bagaimana cara mereka untuk mengurangi ekonomi? Ya menikahkan anaknya pada umur yang dini lagi, kan? seharusnya anak-anak tersebut diberikan pola pikir yang lebih mementingkan masa depannya, jika ia sudah berpendidikan dan memiliki suatu pekerjaan, barulah mereka dapat menikah sehingga tidak terjadi kekurangan ekonomi, lagipula sekarang sekolah sudah gratis, lebih baik sekolah terlebih dahulu lalu menciptakan suatu pekerjaan lalu bekerja, lagian si calon suami kalau benar-benar ingin menikah dengan dia juga pasti mau dong menunggu?

    ReplyDelete
  18. saya sebagai pelajar sangat kecewa, dikatakan bahwa pernikahan dini itu untuk mengurangi ekonomi, tetapi sama saja, lagipula ekonomi tidak dapat diberhentikan, belum nanti yang baru menikah kan pasti akan memiliki anak karena menurut mereka mempunyai anak adalah hal yang menarik, pasti mereka memiliki anak, bagaimana cara mereka untuk mengurangi ekonomi? Ya menikahkan anaknya pada umur yang dini lagi, kan? seharusnya anak-anak tersebut diberikan pola pikir yang lebih mementingkan masa depannya, jika ia sudah berpendidikan dan memiliki suatu pekerjaan, barulah mereka dapat menikah sehingga tidak terjadi kekurangan ekonomi, lagipula sekarang sekolah sudah gratis, lebih baik sekolah terlebih dahulu lalu menciptakan suatu pekerjaan lalu bekerja, lagian si calon suami kalau benar-benar ingin menikah dengan dia juga pasti mau dong menunggu?

    ReplyDelete
  19. Ada bbrp resiko yang perlu dipahami oleh masyarakat yang menikahkan anak di usia dini. Respect untuk bapak kepala sekolah yang turut berusaha memberikan edukasi kepada orang tua murid beliau. Mengubah suatu paradigma masyarakat memang tidak mudah namun semoga ini bisa membantu mengurangi angka pernikahan dini di Indonesia #amin

    ReplyDelete
  20. Semoga pemerintah dan orang tua...dapat mengedepankan pendidikan anak sehingga dapat menjadi penerus bangsa...yang handall

    ReplyDelete
  21. Semoga pemerintah dan orang tua...dapat mengedepankan pendidikan anak sehingga dapat menjadi penerus bangsa...yang handall

    ReplyDelete
  22. Apakah sudah pernah dilakukan penyuluhan atau pembinaan terkait bahaya pernikahan dini? Mungkin bisa diberikan dan dianalogikan dengan contoh2 kasus yg sudah pernah terjadi karena pernikahan dini. Kerugian2nnya baik bagi anak ataupun orang disekitarnya.
    Jika perlu dibentuk kader di desa tersebut.
    walaupun tentu langkah ini tidak akan langsung memberikan hasil besar, namun semua keberhasilan pasti dimulai dari hal kecil yang diseriusi.
    Dan semoga pemerintah pun tahu dan segera mengambil langkah yang bijak untuk menyelesaikan masalah tersebut. Mereka anak-anak bangsa Pak, Bu, bakal penerus kalian nantii.

    Thanks UNICEF Indonesia for sharing :)

    ReplyDelete
  23. Saya sangat sedih dan prihatin membaca kisah nyata ini. Karena masa muda, harusnya masa-masa yang di gunakan sebaik-baiknya dalam menuntut ilmu, mengembangkan potensi, dan berprestasi. Kurangnya informasi pada desa-desa terpencil dan mind set yang kurang berwawasan mengakibatkan pengambilan suatu keputusan yang salah serta kurang dpertimbangkan dengan baik. Sudah jelas pada cerita ini mengatakan bahwa anaknya diijinkan menikah untuk mengurangi beban ekonomi, namun ternyata calon suami yang di ajak menikah belum bekerja (pengangguran). Ini sangat menyedihkan. Lebih baik dana digunakan untuk menamatkan sekolah dan mencari pekerjaan, daripada digunakan untuk membangun rumah tangga baru disaat belum waktunya. Karena jika sudah berpenghasilan (bekerja), menjadi pribadi yang semangat, dan suka berinovasi, saya sangat yakin tidak mungkin sampai tidak menemukan pasangan nantinya.

    Terimakasih UNICEF atas informasinya.
    Salam Generasi Muda Indonesia !

    ReplyDelete
  24. namanya jg indonesia.. pendidikan kurang didaerah terpencil, toh jadinya gt deh.
    ortunya kolot, kurang wawasan, emang sih klo udah nikah beban hidup udah berkurang, tp kasian tuh anak masih pingin sekolah tinggi malah di suruh kawin. kacau orang tuanya

    ReplyDelete
  25. Suka bertanya tanya pemerintah disana ngapain aja ...
    Apa karena ngangap bodoh masyarakatnya terus membodohkannya jadi tugas mereka jadi gampang gaji mogok dikit demo korupsi saling bunuh yah cape juga idup disini mah emang butuh orang2 spesial buat negara spesial ini ....

    ReplyDelete
  26. Apa dengan menikah dapat memperbaiki masa depannya?

    ReplyDelete
  27. Sepertinya orang tuanya yg harus diberi pengetahuan lebih. Agar pikiranya terbuka dan dpt memikirkan masa dpn anak nya yg lebih baik.bkn menikahkan anak anaknya yg masih butuh pendidikan lebih lanjut fyuuh

    ReplyDelete
  28. Ayok jng hanya ngomong kasih solusi ini masalh serius

    ReplyDelete
  29. Akibat kebodahan bnyk hal2 disalah artikan, apalg ya di tunggu pemerintah apakah harus menjamur dlu masalh sprti ini baru di tangani????

    ReplyDelete
  30. Akibat kebodahan bnyk hal2 disalah artikan, apalg ya di tunggu pemerintah apakah harus menjamur dlu masalh sprti ini baru di tangani????

    ReplyDelete
  31. Ayok jng hanya ngomong kasih solusi ini masalh serius

    ReplyDelete
  32. Diwilayah kerja saya masih ada pernikahan dini...dinikahkan saat usia belia oleh orangtuanya...saya sebagai nakes waswas apabila ada pasutri muda yang hamil karena beresiko sekali terjadi perdarahan saat persalinan yang mengakibatkan kematian...diwilayah saya 15th ada yg hamil...tragis....

    ReplyDelete
  33. Tampaknya penanaman soal nilai anak sangatlah kurang. Sudah tertanam dari dulu "banyak anak banyak rejeki". Dari sini tercermin bahwa anak hanyalah aset yang nantinya dapat menunjang dalam segi ekonomi. Padahal sebagai manusia bukan hanya ekonomi saja yang perlu digembor2kan untuk bertahan hidup. Respect others.. especially our children!!

    ReplyDelete
  34. Apa yang harus kita semua lakukan untuknya @Nira

    ReplyDelete
  35. kasian dia masih seumuran sy :( sedih dengerny. dia masih sangat muda dan calon suaminya tidak punya pekerjaan. saya bayangkan bagaimana masa depan mereka. itu membuat sya sedih. ternyata mash ada perempuan yang mash sangat yang harus menikah. padahal masa depannya mash panjang. suatu saat dia pasti menyesal. yang hanya lulus SMA saja susah cari kerja ... yang terbaik buat nira aja :)

    ReplyDelete
  36. Dimana desa manggaru bos?emang ada ya!!!

    ReplyDelete
  37. Kamu masih di bawah umur, jangan menikah dulu. Mestinya kamu sekolah dulu ya. Kalau bisa, kamu sekolahnya sampai S1 supaya bisa dapat pekerjaan yg bagus.

    ReplyDelete
  38. Semoga ini menjadi pelajaran buat kita semua terutama masyarakat di pedesaan yg kolot ( anak perempuan diatas 20 tahun blm menikah disebut terlambat menikah, ketuaan untuk usia perempuan) semoga indonesia tidak ad lg nira nira yg lainya.. Amin

    ReplyDelete
  39. Ketidak tahuan dan kurangnya sosialisasi bisa jadi seperti itu, yaAllah 14 tahun tahu apa? Harusnya itu fase pubertas

    ReplyDelete
  40. Sebenarnya ini adalah salah orang tua, karna ortunya bkn melarang tapi mendukung. Orang tua nya tdk berpikir akan masa depan anak nya

    ReplyDelete
  41. Saya turut prihatin dan sedih. Saya tahu betul apa yang dirasakan teman bahkan guru Nira karena teman saya pun ada yang seperti ini. Hal ini terjadi karena alasan-alasan yang sudah disebutkan. Dan kita tidak tahu awal mula dari kejadian ini karena mungkin pemikiran orang tua Nira didasari pengalaman mereka sendiri, yaitu mereka pernah merasakan apa yang Nira rasakan. Dan itu akan terus berlanjut jika Nira memiliki pemikiran kolot seperti orang tuanya. Para orang tua berpikir bahwa menikahkan anak adalah jalan pintas agar anak mereka memiliki kehidupan yang baik dan memiliki orang yang bertanggung jawab atas mereka, padahal tidak. Menurut saya, hal ini harus dibenahi dari cara pandangnya dulu bahwa melanjutkan pendidikan bukanlah hal yang buruk. Pemerintah memiliki andil besar dalam hal ini. Banyak anak berbakat yang kurang mampu dalam keuangan, dan inilah yang menyulitkan. Sekolah memang gratis, tapi biaya lainnya itulah yang membuat sekolah mahal.

    ReplyDelete
  42. kenapa lokasinya disamarkan??
    padahal ini kan permasalahan sosial??
    permasalahan kita semua??
    atau jangan-jangan berita ini bohong??
    hanya ingin nyari sensasi aja??

    kalo emang bukan bohong, lokasi wilayahnya jangan di samarkan, supaya adanya kevalidan data..
    orang bisa tahu dimana tempat kejadian perkara,, serta lembaga perlindungan anak juga bisa bekerja..

    ReplyDelete
  43. Kehidupan ini keras dan penuh tantangan. hidup yg dijalani mesti Dgn sabar,tegar n pantang menyerah. saya sangat menyayangkan keputusan org tuanya krn apapun yg diambil langkah akan dipertanggungjawabkan. saya harap pemerintah turut ikut tangan jgnlah persoalan di ruang lingkup dpr,dan yg tidak penting di besarkan hrsnya di slsaikan dgn kepala dingin krn msh bnyk yg hrs dikerjakan n dipertanggungjawakan kepada Sang Pencipta. ingat Sang Pencipta itu tidak tidur. marilah bekerja sama untuk menjadi lebih baik lagi terutama dari diri sendiri,lingkungan tmpt tinggal masing-masing

    ReplyDelete
  44. Kehidupan yang tidak layak mengakibatkan orang tua menyuruh anaknya menikah muda dengan alasan ekonomi. Dengan ini pemerintah terlihat seperti menutup mata dengan realita yang sedang terjadi saat ini. Sebenarnya, orang tua tidak perlu memaksakan anaknya untuk menikah muda, orang tua bisa memberikan edukasi-edukasi yang terbaik untuk anak-anaknya. Ketika si anak menikah dengan orang yang salah, itu akan menjadi tekanan batin tersendiri bagi sang anak nantinya. Bagi para orang tua yang membaca artikel ini. Kalian bisa bwlajar dari kisah nyata yang sedang dialami oleh anak itu. Arahkanlah dan didiklah anak-anak kalian ke arah yang lebih baik lagi dengan pendidikan, agama, perilaku, dan pergaulan. Karena, itu semua bisa membuat sang anak bisa menjadi lebih nyaman bersama orang tuanya maupun lingkungan sekitarnya. Ajarkanlah pergaulan-pergaulan yang baik. Karena, orang tua adalah cerminan anaknya di masa depan. ☺☺

    ReplyDelete
  45. Bantuan dana tidak akan merubah semua ini,,menurut saya yg pertama kita ubah adalah cara pandang orang tua tentang pentingnya pendidikan, masa depan yg terarah. Kalau kita hanya memberikan dana nantinya mereka (para orang tua) akan menjadi malas dan akan bergantung.

    ReplyDelete
  46. Hal ini akan terus terulang jika tidak ada penyuluhan untuk mereka dan kesadaran dari pihak orang tua dan anak. Jika ada kegiatan penyuluhan, saya siap untuk berpartisipasi. Miris mengetahui hal ini dan kejadian ini terus berulang, lihat contoh yg sebelumnya ulf* dan syeik* puj*

    ReplyDelete
  47. Alangkah baik x untuk Kita semua saling instrospeksI diri sendiri, sblm APA yg Kita bahas menjadi tanda untuk diri Kita.

    ReplyDelete
  48. Harus ada penyuluhan mengenai masalah ini kepada orang tua dan juga anak. Harus di ubah pola pikirnya bahwa menikah di usia muda bahkan sangat muda itu sangat beresiko terhadap fisik dan mental.

    ReplyDelete
  49. Seharusnya orang tua mengerti bahwa anak akan mendapat ilmu yang dapat membantunya dalam pekerjaan dan itu hanya didapatkan di sekolah saja.

    ReplyDelete
  50. Menurut aku ini udh termasuk pelanggaran HAM.

    ReplyDelete
  51. Tidak ada yang bisa disalahkan didalam kasus seperti ini. Karena semua berasal dari nenek moyang yang hidup jauh sebelum mereka. Semua menjadi pola pikir yang salah dan menjadi kebiasaan. Yang harus dilakukan adalah membawa mereka menuju kesadaran untuk mengubah kebiasaan yang salah ini.

    ReplyDelete
  52. Kejadian ini masih banyak ditemukan di daerah lain di Indonesia, memang terasa miris tapi itulah realita yang terjadi di negara kita. Saat ini mungkin yang bisa dilakukan adalah terus dan terus mengedukasi para orang tua akan pentingnya pendidikan untuk anak-anak mereka....

    ReplyDelete
  53. Semoga siklus ini akan segera terhenti. Semoga.

    ReplyDelete
  54. Dikampung saya banyak terjadi hal yang sama, teman SMP saya juga ada yang sudah menikah sebelum tamat SMP, itu dikarenaka pandangan orangtua yang berfikir bahwa anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi2, karena tetap suatu saat akan menjadi ibu rumah tangga dan mengurus suami, anak dan rumah. Itu sebabnya orangtua berfikir bahwa meyekolahkan anak perempuan hanya buang2 waktu dan biaya...miris memang,.

    ReplyDelete
  55. Dikampung saya banyak terjadi hal yang sama, teman SMP saya juga ada yang sudah menikah sebelum tamat SMP, itu dikarenaka pandangan orangtua yang berfikir bahwa anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi2, karena tetap suatu saat akan menjadi ibu rumah tangga dan mengurus suami, anak dan rumah. Itu sebabnya orangtua berfikir bahwa meyekolahkan anak perempuan hanya buang2 waktu dan biaya...miris memang,.

    ReplyDelete
  56. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  57. Semoga Allah memberikan jalan terbaik.dan ikuti hati kecilmu..jika tak ingin hal itu terjadi berprestasilah dan tunjukkan kau mampu menyelesaikan masalah ekonomi keluarga tanpa harus malalui pernikahan dini..

    ReplyDelete