Wednesday, 11 March 2015

Masa depan yang lebih baik – mengakhiri buang air besar sembarangan di Sumba

- Nick Baker, Communications and Knowledge Management Officer -

Juan, 1 tahun, di depan toilet barunya. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Sumba Barat Daya, Maret 2015 – Juan Ngongo, usia satu tahun, adalah orang pertama di keluarganya yang akan tumbuh besar dengan akses toilet.

Juan tinggal di Desa Watu Kaula, Pulau Sumba (NTT). Selama beberapa generasi, keluarganya buang air besar di sekitar sungai di belakang rumah mereka.

Namun kini sudah tidak lagi. Keluarga Juan belum lama ini menghadiri sebuah sesi pemicuan yang difasilitasi oleh UNICEF di desa mereka. Pada sesi ini, petugas kesehatan menunjukkan bagaimana mudahnya bakteri dari kotoran manusia bisa memasuki rantai makanan dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Termasuk dalam masalah kesehatan ini adalah diare dan pneumonia, yang merupakan kontributor utama dari 370 kematian balita Indonesia setiap harinya.


Ibu Juan, Yuliana, mengatakan bahwa sesi tersebut adalah pengalaman yang membuka matanya. “Kami jadi tahu tentang berbagai risiko kesehatan dari buang air besar sembarangan (BABS). Jadi kami memutuskan untuk membangun toilet,” katanya.

Ada lebih dari 750 rumah tangga di Desa Watu Kaula. Perwakilan dari hampir semua rumah tangga menghadiri sesi pemicuan dan banyak yang berkomitmen untuk membangun toilet. Kisah Juan hanya salah satu darinya.

“Kini saya merasa aman. Kini saya merasa bahwa Juan akan aman,” ucap Yuliana.

Memberdayakan Desa-desa

Sanitarian Delsiana Bora menyelenggarakan lokakarya tentang BABS.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Delsiana Bora adalah seorang sanitarian di Sumba Barat Daya, yaitu petugas kesehatan dengan fokus pada sanitasi dan kesehatan. Berkat dialah Juan dan anak-anak lainnya di Desa Watu Kaula kini memiliki akses toilet.

Delsiana adalah satu dari banyak sanitarian di Sumba yang menerima bantuan pelatihan dari UNICEF. UNICEF melatih Delsiana dan rekan-rekannya dalam melakukan sesi pemicuan dan memonitor perkembangan di setiap desa.

“Kesadaran tentang dampak kesehatan sehubungan dengan BABS di daerah ini masih sangat rendah. Orang-orang tidak sadar tentang risiko yang mereka ambil,” katanya.

Di kantor Delsiana ada sebuah bagan besar tentang 10 desa di mana dia bekerja. Dia menjelaskan bagaimana masing-masing kolom pada tabel menunjukkan jumlah dan kualitas toilet yang telah dibangun.

UNICEF membantu koordinasi sebuah program pelatihan untuk Delsiana dan sanitarian lainnya dalam menggunakan sistem SMS untuk memonitor kemajuan di desa-desa. Informasi dikirim melalui SMS ke sebuah database pusat, yang lalu dikumpulkan oleh dinas kesehatan kabupaten.

Toilet baru milik Juan di Watu kaula adalah satu lagi kisah sukses untuk Delsiana dan timnya.

Sebuah target yang ambisius

Dominggus Manna berupaya mengakhiri BABS di Sumba Barat Daya.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Dominggus Manna menghadapi sebuah tugas yang cukup berat. Sebagai Kepala Bagian Kesehatan Lingkungan di Sumba Barat Daya, ia bertanggung jawab atas praktik kebersihan di 131 desa. Dan ia ingin agar seluruh desa tersebut bebas dari BABS dalam empat tahun.

UNICEF membantu perwakilan daerah seperti Dominggus memenuhi target-target serupa dengan membentuk kelompok kerja BABS di Sumba. Kelompok kerja ini mempertemukan pejabat pemerintah dan pemangku kepentingan dari berbagai tingkat untuk mencari cara terbaik dalam menghadapi BABS.

“Saat ini sekitar 50 persen desa melakukan BABS,” katanya. “Tapi dalam beberapa tahun terakhir kami telah meningkatkan jumlah keluarga dengan akses toilet dari 36 persen menjadi 45 persen. Jadi kemajuan ini tampak baik.”

No comments:

Post a Comment