Thursday, 13 August 2015

Mengenal Lebih Dekat Pendidikan Satap di Bondowoso


Program Satap adalah jenjang pendidikan SD-SMP dimana kegiatan belajar mengajar dilakukan dalam satu atap.

Oleh David Damanik, Telefundraiser UNICEF 


Manajemen Berbasis Sekolah dalam satu atap (Satap) merupakan program pemerintah yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang sudah dicanangkan sejak tahun 2005 dan merupakan program pemerintah dalam upaya mensukseskan wajib belajar 9 tahun.  Program satap adalah jenjang pendidikan SD-SMP dimana kegiatan belajar mengajar dilakukan dalam satu  atap ( lokasi ) dengan tujuan memberi kesempatan dan mempermudah anak – anak untuk mendapatkan pendidikan yang lebih layak sampai jenjang SMP.

Kesempatan kali ini saya akan berbagi kisah “field trip Unicef ke Bondowoso “dengan melihat langsung (observasi) salah satu program pendidikan yang sedang dilaksanakan Unicef yaitu Program Satap Bondowoso tgl 25-26 Mei 2015.



Hari Pertama (25 Mei 2015)

Field trip Unicef kali ini terasa hangat karena bertemu dengan rekan – rekan fundraiser lainnya, baik dari Jakarta dan Bandung. Meeting point kami ditentukan dibandara internasional Juanda Surabaya jam 8 pagi , dan perjalanan ke Bondowoso  ditempuh selama 5-6 jam (waktu normal), sekitar sore hari kami tiba di Bondowoso dan langsung check in penginapan. Menikmati makan malam kami bertemu dengan Pak Supriyono, beliau adalah perwakilan Unicef yang menanggani Satap di bondowoso. Perbincangan dengan beliau dibuka dengan seputar pertanyaan mengenai program Satap di Bondowoso. Informasi yang diperoleh bahwa pemilihan Bondowoso sebagai program Satap karena Bondowoso termasuk wilayah IDT (inpres dareah tertinggal). Saat ini bondowoso sudah memiliki 17 sekolah satap dan 3 diantaranya sudah menjadi regular (memiliki kepala sekolah sendiri dengan ketentuan memiliki jumlah murid 150 orang dalam 1 sekolah satap). Pemilihan kriteria sekolah satap dibondowoso berdasarkan, antara lain:

APK (angka partisipasi kasar) Pendidikan dibawah rata-rata nasional

Daerah terpencil dan teriosalasi karena ketersediaan SMP yang kurang memadai, kalaupun ada jarak antara SMP terdekat berada diluar jangkuan lulusan SD setempat.

Wilayah tersebut terdapat banyak anak-anak yang belum memperoleh kesempatan pendidikan sampai SMP.

Lokasi SD yang memiliki sarana dan prasarana yang dapat dimanfaatkan sehingga dimungkin untuk menyatukan SD dan SMP dalam satu lokasi.

Pemilihan program sekolah satap dapat ditentukan apabila sudah memenuhi syarat dan telah melalui proses analisa dan verifikasi dari Dinas Pendidikan Propinsi, itu juga berdasarkan usulan dari Dinas Pendidikan setempat ( kabupaten ). Beliau juga menceritakan beberapa permasalah dihadapi dalam program sekolah satap diwilayah bondowoso itu sendiri, diantaranya:

Sarana dan Prasarana yang kurang memadai
Kurangnya ketersediaan SDM pengajar
Gaji pegawai honorer yang minim, paling besar Rp 300.000 perbulan
Pembayaran gaji swasta hanya memanfaatkan 30% dari BOS (Bantuan Operasional Sekolah)
Perilaku dan budaya masyarakat setempat
Pernikahan usia dini

Peran serta Unicef dalam program sekolah satap ini, beliau juga menginformasikan tidak semata bantuan fisik. Pelatihan SDM pengajar serta sosialasi kepada masyarakat setempat mengenai pentingnya pendidikan tersebut. Unicef juga berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan setempat sehingga program yang dijalan Unicef sesuai dengan Program kerja dari Dinas Pendidikan itu sendiri, dengan kata lain tidak menyimpang dari program Pemerintah setempat khususnya Dinas Pendidikan dalam. Unicef mencoba mengisi beberapa pos – pos dari program kerja pemerintah setempat yang kurang maksimal yang sesuai dengan program Unicef itu sendiri. Sehingga nantinya apabila cara yang dilakukan Unicef dapat berhasil sehingga kedepannnya dapat di implementasikan kedalam program Pemerintah Setempat itu khususnya Dinas Pendidikan dalam program Satap ini.

Hari Kedua (26 Mei 2015)

Kunjungan pertama hari ini menuju Kantor Dinas Pendidikan Bondowoso. Disana kami bertemu dengan Bapak Bambang S dan Musa Ansori. Topik pembicaraan dimulai dengan perkenalan pihak Unicef dengan Pegawai Dinas Pendidikan tersebut.Mereka berdua memberikan penjelasan mengenai Lokasi Satap yang nantinya akan kami kunjungi. Kunjungan kali dibagi menjadi 2 Kelompok dengan lokasi yang berbeda yaitu Satap Grujugan dan Satap Botolinggo.

Kelompok kami memperoleh kesempatan mengunjungi sekolah Satap Grujugan dengan pendamping Pak Musa Ansori. Jarak Dinas Pendidikan (Kota) menuju lokasi sekitar 10 km yang ditempuh dengan waktu 30 Menit. Selama perjalanan menuju lokasi perbedaan tingkat kehidupan masyarakat sekitar begitu terlihat, itu terlihat dengan bangunan rumah serta aura suasana. Setiba dilokasi SMP Satap Grujugan kami disambut oleh Kepala Sekolah SD Satap Grujungan beserta beberapa wali murid dari SD Grujungan, kami pun menyempatkan diri untuk melihat sekelling SMP Satap Grujugan. Sekolah Satap Grujugan dimulai sejak tahun 2007, gedung SD dan SMP Satap Grujugan tidak dalam 1 lokasi. Bangunan SD Dan SMP satap Grujungan terpisah namun jaraknya tidak lah terlalu jauh sekitar 100 meter.

Dalam kesempatan ini kami juga sempat berdialog dengan orang tua murid, komite sekolah, kepala sekolah serta tenaga pengajar SMP Satap Grujugan yang difasilitori oleh Bapak Muse Ansori. Ada beberapa masukan yang diperoleh dari dialog  tersebut, diantaranya:

Keinginan Sarana dan Prasarana yang lebih baik

Contoh penyediaan bangku dan meja sekolah, alat peraga, dan halaman sekolah yang minta diplur agar saat musim hujan tidak becek, Keinginan mereka adalah hal wajar jika melihat perbandingan fasilitas yang dimiliki sekolah satap dengan sekolah regular diperkotaan, ini menunjukkan sinyal positif bahwa keinginan mereka  untuk mendapatkan kehidupan yang layak, namun hal tersebut kembali lagi mengenai alokasi dana yang diterima pihak sekolah. Banyak sekolah yang juga memiliki pengharapan yang sana mengenai sarana dan prasarana yang memadai namun dinas pendidikan mempunyai kriteria, skala prioritas serta keterbatasan dana sehingga setiap sekolah perlu bersabar dan menunggu waktu pemilihan pencairan dana.

Penyediaan SDM yang kurang memadai.

Tenaga pengajar disekolah SD dan SMP Satap memiliki 13 tenaga pengajar namun lebih didominasi  honorer, informasi yang didapat dari penjelasan Pak Musa bahwa ini berkaitan dengan regulasi pemerintah dimana lebih mengutamakan tenaga pengajar SD di isi oleh PNS, karena SD pada dasarnya merupakan jalan awal anak-anak memperoleh dasar pendidikan dan penyediaan SDM tenaga pengajar SMP Satap dengan memanfaatkan tenga pengajar tersebut atau mencari dari tenaga honorer ( swasta )

Gaji Tenaga Pengajar yang minim

Informasi yang didapat bahwa gaji honorer tenaga pengajar di sekolah Satap berkisar Rp 300 Rb/ bulan, bahkan yang lebih mengharukan bahwa tenaga pengajar di SMP Satap Grujugan diawal bayar Rp 4000/pertemuan ( 1x40 Menit ). Semangat ingin mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa yang membuat mereka kuat, pantang menyerah dan tegar untuk melaksanakan tugasnya. Gaji tenaga pengajar honorer tersebut dialokasikan dari dana BOS yang diterima oleh pihak Sekolah Satap Grujugan dari Dinas Pendidikan.

Bantuan Pemerintah khususnya Dinas Pendidikan kurang mencukupi

Sumber dana sekolah Satap didapat melalui BOS yang diterima. Pencairan dana BOS ditentukan oleh banyak jumlah murid yang ada dalam sekolah Satap itu sendiri, diharapkan untuk anak- anak lulusan SD yang ada agar melanjutkan jenjang berikutnya ke SMP Satap itu sendiri. sehingga dana BOS yang diterima akan menjadi lebih besar, disamping Dinas Pendidikan menerima pengajuan perbaikan sekolah berdasarkan skala prioritas kebutuhan yang diperlukan.

Budaya Masyarakat Setempat

Hasil persuasif dengan murid bahwa ada beberapa teman mereka yang putus sekolah karena lebih baik bekerja membantu orang tua (bertani ), dan yang lebih miris mereka menikah di usia dini, Bisa kita bayangkan di usia yang terlalu muda sudah membentuk sebuah keluarga. Peran serta orang tua dan tokoh masyarakat diharapkan dapat memberikan pencerahan dan motivasi bagi anak-anak untuk mau bersekolah dengan harapan program sekolah Satap dapat membuka pikiran dan kemauan anak – anak untuk belajar mengenai pengetahuan formal yang didapat dari Sekolah Satap.

Sekolah Satap Grujagan adalah salah satu Sekolah Satap yang ada Indonesia yang saat ini masih dalam proses pengembangan. Keterbatasan dana, fasilitas, tenaga kerja dapat diminimalir jika adanya keingian bersama antara  Pemerintah ( Dinas Pendidikan ), Komite Sekolah, masyarakat setempat untuk membuat kondisi dimana Sekolah Satap itu sendiri menjadi sebuah kesempatan untuk anak-anak untuk mendapat pendidikan yang lebih layak. Dengan begitu tujuan didirikan sekolah Satap itu sendiri yaitu mensukseskan wajib belajar 9 tahun dan mutu pendidikan dasar dapat terlaksana.

Anak – anak adalah penerus bangsa, bekali mereka dengan pendidikan sebagai modal masa depan mereka. Mari sukseskan dengan berpartisipasi dan dukung program UNICEF “Pendidikan Satap." 

Hubungi (021) 29963400 - Unicef Telefundraising- Dukungan dan bantuan donatur merupakan senyum harapan bagi pendidikan anak- anak Indonesia.