Tuesday, 25 August 2015

Masa Kecil yang Tercuri: Pengantin Anak di Sulawesi Barat

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

"Saya lebih senang menjadi pelajar dari pada ibu," kata Sari*, sambil menggendong anaknya. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker.

Desa-desa kecil yang tak terhitung jumlahnya memagari garis pantai Pulau Sulawesi. Deretan rumah panggung (rumah tradisional) berjajar di antara pantai-pantai nan indah dan hutan hijau membentang. Laksana taman firdaus. Tetapi pemandangan Indah ini sesungguhnya menyimpan krisis tersembunyi.

Sulawesi Barat memiliki tingkat perkawinan usia anak yang cukup mengkhawatirkan. Provinsi ini memiliki prevalensi terbesar anak perempuan yang menikah pada usia 15 tahun atau lebih muda di Indonesia. Karena berbagai alasan, seperti budaya, agama, ekonomi, masa kecil anak-anak perempuan hilang di daerah ini setiap harinya.

Ayu* adalah salah satu dari anak-anak perempuan tersebut. Perempuan belasan tahun yang bertutur-kata lembut ini tinggal di sebuah desa pertanian sepi yang disebut Amara*. "Ibu dan nenek saya keduanya menikah pada usia 14 tahun," katanya. Tradisi keluarga berjalan terus: "Saya berusia 15 tahun ketika saya menikah dengan suami saya, Ganes, yang berusia 23 tahun."


Ayu dan Ganes menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) setempat. Ayu memalsukan usianya. Pemalsuan seperti ini merupakan praktek yang sudah biasa dilakukan di desanya karena sebagian besar anak tidak memiliki akte kelahiran. "Saya hanya mengatakan kepada mereka saya berusia 18 tahun," katanya.

Para imam setempat tampaknya tidak melihat usia sebagai penghalang pernikahan. "Apakah anak telah akil balig atau belum ketika mereka berusia sembilan tahun, mereka sudah seharusnya bisa menikah," salah satu dari mereka menyatakan hal ini. "Pemerintah hanya mengijinkan orang untuk menikah [pada usia yang lebih dewasa] yang menurut saya tidak sepenuhnya benar."

Dengan restu seorang imam, pasangan Ayu dan Ganes memasuki kehidupan perkawinan bersama. Ayu segera hamil. Akan tetapi, hubungan mereka mulai retak. "Kami mulai bertengkar," kata Ayu. Perdebatan sengit semakin biasa terjadi. "Kemudian suatu hari Ganes mengemasi tasnya dan meninggalkan rumah."

Tak lama kemudian Ayu melahirkan dan menjadi orangtua tunggal. Rencana sekolah, pekerjaan dan masa depan semuanya harus dikesampingkan. Sambil mengayun-ayun anaknya sampai tertidur, Ayu tampak lesu. "Saya baik-baik saja sekarang. Tetapi saya sering marah, "katanya.

Sari dan Dewi adalah dua anak perempuan dari desa terdekat yang bernama  Kenanga. Keduanya tumbuh di rumah bertetangga yang hanya dipisahkan oleh sebidang sawah. Mereka berbagi  masa kecil bersama: sekolah, hobi, olahraga. Dan kehidupan mereka berubah dramatis ketika keduanya menikah tahun lalu;  dengan laki-laki yang sama.

Ibu Dewi mengeluh. Ia mengaku awalnya berharap banyak pada pernikahan anak perempuannya yang berusia 15 tahun dengan seorang laki-laki usia 25 tahun yang bernama Hazar. "Kami tidak bisa membeli pakaian dan hal-hal lain yang ia perlukan," kata Ibu Dewi. "Saya kira nasibnya akan menjadi lebih baik jika ada orang yang merawatnya."

Tetapi pernikahan mereka tidak berlangsung lama. Segera setelah pernikahan, Hazar memutuskan untuk pindah ke tempat lain di Indonesia. Penduduk desa berpikir  bahwa ia bekerja di pulau Kalimantan, yang jauhnya beberapa ratus mil.

Hazar tidak hanya meninggalkan istri-istri barunya, tetapi juga anak laki-laki dari masing-masing istri. Sari dan Dewi sekarang menghabiskan hari-hari mereka dengan menjalani kehidupan sebagai ibu, jauh sebelum waktunya. Tanggung jawab dan beban kerja seringkali melampaui kemampuan mereka.

Sari mengatakan bahwa ia merindukan kehidupan lamanya. "Saya lebih senang menjadi pelajar dari pada ibu," katanya, sambil menggendong anaknya. "Ketika saya masih di sekolah, semuanya lebih baik."

Seorang ibu dan anak laki-lakinya di Sulawesi Barat. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Ini adalah perasaan yang juga disampaikan oleh Intan di desa tetangga Tambala. Perempuan berusia 16 tahun ini memiliki latar belakang yang sangat berbeda dengan banyak pengantin anak lainnya di daerah tersebut. Ia berasal dari keluarga yang sangat kaya.

Awal tahun lalu, terjadi hubungan asmara antara Intan dan seorang anak laki-laki bernama Amet. Awalnya dimulai dari pertukaran pesan teks sederhana, yang kemudian berkembang dengan cepat menjadi sesuatu yang lebih serius. Intan sangat terkejut. Ia hamil.

"Saya tidak tahu jika hubungan seksual dapat menyebabkan kehamilan," kata Intan. Ini merupakan pengakuan umum anak-anak perempuan di sekitar Sulawesi Barat, bahkan mereka yang berada pada pertengahan sampai akhir remaja. Tabu tentang seks, khususnya pergaulan bebas (seks di luar nikah) berarti bahwa masalah tersebut jarang dibicarakan.

Kehamilan yang tidak direncanakan kerap mendasari pernikahan yang terburu-buru. "Ketika seorang anak perempuan hamil, ia harus menikah," kata kepala desa. Umur tidak menjadi masalah. "Tidak apa-apa bagi perempuan untuk menikah pada usia 15 tahun. Hal ini sangat disayangkan, namun masih banyak orang di dalam komunitas kita yang mendukung pandangan ini, "katanya.

Intan mengatakan, "Karena saya hamil, saya diijinkan untuk menikah". Ia mengatakan bahwa hari pernikahannya “seperti kabur”. Sejak meninggalkan sekolah, Intan menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah. "Saya ingin kuliah seperti saudara- saudara saya lainnya," katanya. "Sekarang saya tidak bisa menentukan impian saya. Sulit untuk membayangkannya."

Sulit bagi kebanyakan pengantin anak di Sulawesi Barat untuk membicarakan masa depan. Setelah menikah, kegiatan mereka hampir seluruhnya dipusatkan pada tugas-tugas rumah tangga. Belajar dan berkembang berubah menjadi memasak dan memelihara kebersihan.

Kasus serupa juga terjadi pada Dina di desa Mahara. Tahun yang lalu, ia duduk di bangku Kelas 3 SMA. Peluang setelah lulus  nampak terbuka luas. Akan tetapi, atas dorongan dari keluarganya, Dina meninggalkan sekolah dan menikah dengan teknisi perbaikan mobil setempat.

"Ibu saya juga menikah muda," kata Dina di ruang tamu rumah barunya. Hari-harinya sangat berbeda dengan ketika ia masih menjadi pelajar. "Sekarang saya menyiapkan semua makanan untuk keluarga saya. Saya melakukan semua pekerjaan rumah. Dan dia mengerjakan tugas tambahan menjadi seorang ibu baru. "Suami saya tidak mengurus anak kami sehingga saya juga bertanggung jawab untuk mengurusnya".

Bukan keinginan Dina untuk mengalami transisi yang tidak mulus untuk menjadi orang dewasa. Kadang-kadang ia memikirkan kembali apa yang telah terjadi. "Saya ingin kembali ke sekolah. Mungkin setelah setahun," katanya. Tetapi untuk saat ini, yang ia pikirkan adalah apa yang harus ia siapkan untuk makan malam. "Saya senang memasak ikan dan sayuran."

Ada penerimaan yang sunyi dari kasus Ayu, Sari, Dewi, Intan dan Dina. Masyarakat tampaknya menerima saja perkawinan usia anak sebagai bagian dari struktur sosial. Dampak dan akibat dari perkawinan usia anak jarang dibicarakan. Keprihatinan, apalagi ketidaksetujuan terhadap dampak perkawinan anak tampaknya tidak mengemuka pada masyarakat Sulawesi Barat.

Jika ’kesunyian’ ini tidak segera dipecahkan, maka keadaan ini akan terus berlanjut untuk waktu yang sangat lama.

* Nama anak-anak perempuan dan desa-desa di atas bukan nama asli.


Perkawinan usia anak merupakan hal yang umum di seluruh Indonesia dimana satu dari enam anak perempuan menikah sebelum ulang tahun ke-18 mereka. Undang-undang perkawinan saat ini memungkinkan anak laki-laki untuk menikah pada usia 19 tahun, tetapi anak perempuan dapat menikah pada usia 16 tahun. UNICEF mengadvokasi dan mendukung berbagai upaya untuk mengatasi perkawinan usia anak di Indonesia, menjangkau anak-anak, orang muda, keluarga, masyarakat serta pemerintah Indonesia. 

Tahun ini merupakan saat yang historis bagi upaya-upaya global untuk mengakhiri perkawinan usia anak. Pada bulan September, Pemerintah di setiap negara di seluruh dunia akan menyetujui untuk menghapus perkawinan usia anak pada tahun 2030 sebagai bagian dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG).

84 comments:

  1. Revisi UU perkawinan yang kami ajukan saat ke MK ditolak 2014 lalu #remajaPKBI #youthadvocate ayo berkolaborasi,naikkan usia perkawinan.

    ReplyDelete
  2. Perlu banyak penyuluhan tentang pernikahan dini, tidak hanya di daerah sulawesi tetapi di seluruh daerah indonesia. Karena pernikahan dini bagi masyarakat kurang mampu adalah solusi untuk masalah ekonomi

    ReplyDelete
  3. Hope be better with your kids .. Keep the faith

    ReplyDelete
  4. so sad:(
    they suppose to have a life and brighter future, but now its seem like they dont have any option.

    ReplyDelete
  5. Ada juga yang 13 tahun seperti saya sudah menikah. Di Amerika banyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo. Boleh tolong diberikan sumber fakta yang anda sebutkan bahwa di Amerika banyak pernikahan usia dini? Sepengalaman saya sendiri, di Amerika jarang ditemukan pernikahan dini. Tolong sumber yang jelas dan faktual. Terimakasih.

      Delete
    2. Tidak menikah, tp sdh melakukan hubungan sex di usia muda.

      Delete
    3. Tidak menikah, tp sdh melakukan hubungan sex di usia muda.

      Delete
    4. Tidak menikah, tp sdh melakukan hubungan sex di usia muda.

      Delete
    5. shrsny itu tdk di perbolehkan, generasi muda jaman skrg semakin turun moralnya

      Delete
    6. Kadang menikah dini adalah Jalan terbaik untuk lebih dewasa, bukan mengulur pernikahan tapi mengumbar moral yang tidak seharusnya.
      Ingat, kedewasaan tidak serta merta diukur dg kematangan usia.

      Delete
    7. Oleh karenanya dalam Agama tertentu dimana ketika anak sdh aqil baligh, sudah seharusnya mengkaji tentang hubungan lain jenis yang diperbolehkan...

      Delete
  6. Sangat informatif. Semoga upaya menghapuskan perkawinan anak berhasil.

    ReplyDelete
  7. Sesungguhnya ini sangat disayangkan. Umur saya tidak jauh berbeda dari mereka, tapi nasib kami sungguh berbeda. Hal yg paling miris menurut saya, adalah diamnya masyarakat atas hal ini serta tidak ada pengetahuan atas dampak pernikahan dini. Mereka membenarkan yang biasa, bukan membiasakan yang benar. Dan juga, belum ada solusi pasti untuk masalah masalah ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya setuju dengan anda, padahal masa depan setiap orang adalah sebuah mimpi besar bagi mereka, jika mimpi untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya musnah hanya karena permasalahan pernikahan dini, itu sangat disayangkan sekali. padahal masa depan suatu bangsa ada di tangan para generasi muda yang akan memperjuangkan lebih negara ini, jika kita tidak segera merubah pandangan-pandangan tentang pernikahan dini yang di sebagian kecil wilayah di pelosok Indonesia yang dianggap sebagai "kewajaran", akan dibawa kemana nasib kaum muda yang sebenarnya mempunyai potensi besar untuk mengubah Indonesia menjadi negara yang lebih baik?

      Delete
  8. It's good for our country!!! Jgn ada pernikahan usia dini.

    ReplyDelete
  9. Selalu saja pihak wanita yg di rugikan :( , andai pihak pria lebih menghargai wanita mungkin tidak sesedih itu akhirny.

    ReplyDelete
  10. Sebagai salah satu anak Indonesia yang kurang lebih berusia sama dengan mereka, saya merasa sangat prihatin dengan mereka yang tidak bisa terus belajar dan meneruskan cita-cita mereka sesuai dengan keinginan mereka. Menurut saya, usia 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki masihlah sangat dini karena keadaan psikologis mereka belumlah cukup dewasa untuk mengatasi permasalahan rumah tangga. Mereka menjadi kurang leluasa untuk mengeksplor ilmu pengetahuan lebih lagi. Sangat amat diperlukan penyuluhan dan sosialisasi mengenai masalah ini ke pelosok negeri, di sisi lain pemerintah juga harus segera membuat tindakan.

    ReplyDelete
  11. Seharusnya pembahasan mengenai sex sudah dilakukan sejak anak telah mengalami akil balik. Hal ini untuk menghindari hal2 yg tidak diinginkan misalnya pelecehan seksual/lainnya. Sayangnya, di Indonesia sendiri pembicaraan mengenai sex masih sering dianggap tabu, bahkan diantara orangtua&anak,dimana menurut saya hal tersebut sangat disayangkan.

    ReplyDelete
  12. Berarti tradisi setempat harus di rubah

    ReplyDelete
  13. Lbh baek nikah muda dr pd free sex

    ReplyDelete
  14. Yg terpenting adalah penyuluhan ke setiap daerah2 terpencil,mudah2an byk relewan qta bersedia,amim

    ReplyDelete
  15. Yg terpenting adalah penyuluhan ke setiap daerah2 terpencil,mudah2an byk relewan qta bersedia,amim

    ReplyDelete
  16. Hampir semua kejadian ini terjadi di indonesia. Beruntung tidak bernasib seperti itu. Rasanya bukan tugas pemerintah saja. Tapi pemuka adat dan agama. Wanita punya kesempatan yang sama untuk hidup. Semoga pemerintah indonesia menghapuskan pernikahan di usia anak.

    ReplyDelete
  17. Harus ubah tradisi masyarakat setempat. Bagaimanapun pada akhirnya wanita yang akan menanggung lebih bnyk beban, seharusnya mulai saat ini kita mengedukasi masyarakat terkait seks agar mereka paham akibat yang terjadi serta membangun kesadaran masyarakat jika menikah bukanlah awal dari perbaikan ekonomi semata.

    ReplyDelete
  18. Nikah muda itu akan membuat perempuan game over!! Apalagi hamil diusia muda, akan rentan oleh kelainan pada saat hamil dan melahirkan..I just wish every parents in this country can thingking about "what will ur daughter do when she marry before 20 years old??" Of course to be a mother..yeah it will game over for u girls!!

    ReplyDelete
  19. PERNIKAHAN DINI SEBENARNYA YANG PALING SANGAT MERUGI ADALAH PEREMPUAAN !!!!! TOLONG KESADARAAANYYAAAAA.. TRADISI CACAT !!

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya bener emang, tapi merubah suatu tradisi yang sudah lama itu susah, jadi jangan blame suatu tradisi yg udah ada mbak

      Delete
  20. Satu lagi.. Pendidikan Rumah Tangga jg harus dikedepankan

    ReplyDelete
  21. Satu lagi.. Pendidikan Rumah Tangga jg harus dikedepankan

    ReplyDelete
  22. Sedih sekali membaca kisahnya. Hanya karena tradisi, pupus sudah impian mereka melanjutkan sekolah. Sangat dianjurkan memberi edukasi yg lebih dalam tentang pernikahan dini pada daerah daerah terpencil seperti itu. Agar perempuan muda indonesia lainnya tidak bernasib sama seperti mereka.

    ReplyDelete
  23. Perempuan tak seharus nya hanya berfikir pendek menjadi ibu rumah tangga, hal ini seharus ya di fikirkan oleh para orang tua calon mempelai perempuan , karena rumah tangga yang hanya di sokong oleh Satu Pundak sangatlah berat menuju kehidupan yang sejahtera.
    Saudara kita dari Sulawesi Barat ini baru menyadari saat sudah menikah dan mempunyai anak, NAMUN ada beberapa perempuan yang KULIAH hanya untuk gengsi titel "S" / "A" di belakangnya

    ReplyDelete
  24. Saya dulu hampir saja dinikahkan selepas Sd

    ReplyDelete
  25. saya sangat menyayangkan hanya karena suatu adat masa depan seorang peremouan harus dikorbankan, padahal masih banyak cara untuk bisa mengubah nasib keluarga menjadi lebih baik.
    jaman sudah berubah, bukan saatnya perempuan harus mengalah dengan laki-laki dalam hal menuntut pendidikan setinggi-tingginya. untuk apa emansipasi wanita jika hak wanita untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya hanyalah menjadi angan bagi sebagian para remaja perempuan di daerah terpelosok.
    menjadi seorang ibu rumah tangga bukanlah perkara mudah untuk seusia remaja, kewajiban mereka adalah menuntut ilmu setinggi mereka bisa.
    kita membutuhkan peran pemerintah untuk menekan jumlah pernikahan dini di Indonesia dan juga penekanan angka kematian ibu dan bayi yang semakin lama semakin meningkat jumlahnya di Indonesia.

    ReplyDelete
  26. Setuju! Pelajaran tentang seksualitas masih dianggap hal yg (jorok) di Indonesia.

    ReplyDelete
  27. Sudah saatnya para orangtua melek informasi. Orang tua hendaknya juga berkomunikasi dgn anak2nya tentang masalah seks terutama saat usia rawan remaja. Yang anak2 tau hanyalah sedikit pelajaran biologi yg didapat dari sekolah tanpa mereka tau pesan yg dimaksud spt apa. Jangan berpikir bahwa anak2 bakalan tau dgn sendirinya. Mereka bisa mencari tahu lwt internet tanpa didampingi namun pada akhirnya anak2 mengabaikan informasi yg didpat. Anak2 juga hendaknya berkomunikasi dgn orang tua mereka, walaupun sekedar sharing kegiatan sehari hari. Bapak, ibu.. Berilah keesempatan anak anak anda terutama anak perempuan hidup lebih baik, sekolah mencariilmu lebih lama.. Dan berkarier. Selamatkan masa depan pemuda dan pemudi Indonesia.

    ReplyDelete
  28. Harus memperbanyak penyuluhan di daerah terpencil di indonesia. Apa dampak dan akibatnya
    Cerita diatas bisa dipetik hikmaknya dan dibuat pelajaran bagi yg lain baik orang tua maupun anaknya. Agar keduanya mengerti dan dapat mengambil tindakan baik kedepanya

    ReplyDelete
  29. Maaf akhi ukhti, saya hanya berpendapat. Nikah dalam islam itu ada tiga. 1. Sunnah. 2. Wajib. 3. Haram. Terhadap pendapat akhi ukhti tentang nikah dibawah umur itu (bahasa sinetron: pernikahan dini) tidak berdasar. Menurut beberapa UU tidak sama batas umur anak telah dewasa. Sedangkan dalam islam jelas, dikatakan anak telah baliqh boleh menikah. Hanya perempuan yg perlu wali. Anak yg telah baliqh berhak menentukan pilihan hidupnya sendiri. Batasan baliqh dlm islam bagi anak laki2 sudah pernah mandi junub. Sedangkan anak perempuan datang bulan (pertama). Sekian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Are you kidding? Pada jamane Rasulullah Iman ummat sedemikian tinggi, sehingga menikah merupakan jal yg dipegang Teguh, sehingga wanita terlindungi, bagaimana dgn cerita di atas? Fungsi UU perkawinan adalah adalah melindungi perempuan. Jangan letterlicht hanya beralasan sunnah kalau sunnah nabi yang lebih mudah saja tidak bisa dijalankan dengan istiqamah. Berfikirlah logis dengan melihat konteks sosial yang ada. Tabek.

      Delete
    2. Dan menelantarkan istri Karena ketidakmapuan suami menjadikan hukum pernikahan haram. Perlu juga diingat bahwa syarat menikah tidak hanya akil baligh tapi juga mampu. Mampu menafkahi lahir maupun bathin. Sebagian besar remaja di bawah 20 tahun sbelum mampu baik secara lahir maupun bathin. Sedangkan pernikahan jika lebih banyak mendatangkan mudharat maka hukumnya menjadi haram bukan.?

      Delete
    3. Menurut saya, jangan samakan zaman sekarang dengan zaman Rasulullah saw dulu. Zaman dahulu, Rasulullah sudah pasti adil dengan para istrinya. bisa bertanggung jawab juga. Itu karena hanya Rasul yang mampu melakukannya. kalau zaman skrng beda. Memang dalam islam batasan baliqh perempuan setelah datang bulan pertama tetapi jangan dianggap menikah setelah perempuan baliqh itu tidak berdampak apa-apa pada pasagan yang menikah muda, terutama wanita nya. meskipun sudah baliqh, apa anda tahu bagaimana kondisi reproduksi perempuan yang baru berusia belasan tahun? apakah mental si perempuan jg sudah siap? jangan menyerap ilmu agama setengah setengah. saya juga mungkin bukan ahli agama, tapi Rasul jg pada zamannya pasti melindungi kaum perempuan. Zaman skrng, umumnya menikah muda ujung-ujungnya menelantarkan istri apa itu ga haram? dan yg saya tangkap dari artikel diatas, bahwa mereka kebanyakan menikah atas dorongan keluarga. apakah itu menentukan pilihan sendiri? UU perkawinan yg ada dibuat untuk melindungi perempuan jg, dan pastinya dibuat bukan hanya berdasarkan "baliqh" saja, tapi jg melihat dari sisi kesiapan mental dan kesehatan organ reproduksi perempuan juga.

      Delete
  30. Maaf akhi ukhti, saya hanya berpendapat. Nikah dalam islam itu ada tiga. 1. Sunnah. 2. Wajib. 3. Haram. Terhadap pendapat akhi ukhti tentang nikah dibawah umur itu (bahasa sinetron: pernikahan dini) tidak berdasar. Menurut beberapa UU tidak sama batas umur anak telah dewasa. Sedangkan dalam islam jelas, dikatakan anak telah baliqh boleh menikah. Hanya perempuan yg perlu wali. Anak yg telah baliqh berhak menentukan pilihan hidupnya sendiri. Batasan baliqh dlm islam bagi anak laki2 sudah pernah mandi junub. Sedangkan anak perempuan datang bulan (pertama). Sekian

    ReplyDelete
  31. Pemerintah pusat seharusnya melek dengan kondisi daerah yang seperti ini. penyuluhan dan pemberian pendidikan sex usia dini sudah sewajarnya dinyam oleh masyarakat dan siswa siswi sekolah. Dan sangat disayangkan bungkamnya masyarakat yang menganggap hal ini biasa dan merupaka tradisi, karena apa bila terus dibiarkan tidak akan merubah apapun. Untuk para perempuan, bertanggung jawablah setidaknya untuk masa depanmu sendiri. Love your self, first ☺️

    ReplyDelete
  32. Masa muda adlh masa paling singkat menurutku.. so manfaatkan masa mudamu sebaik mungkin hingga kata seandainya tdk pernah muncul di hari tua nanti :)

    ReplyDelete
  33. saya pernah mendengarkan curhatan dari seorang ibu penjual gorengan disalah satu wisata air terjun di daerah pelosok. beliau bercerita tentang anak lelakinya yang menikah umur 18 tahun dan bercerita pula tentang masa lalu beliau yang menikah pada umur 15 tahun. Kata beliau, orang tua ingin anak gadis mereka mendapatkan kehidupan yang layak dengan menikah dengan lelaki yang sekiranya sudah mapan (dalam hal ini pokoknya bekerja, misal menjual bensin eceran), karena anak gadis mereka dapat jatah keuangan yang lebih banyak daripada bila tinggal dengan keluarga. Lalu beliau bercerita tentang alasan anak lelakinya yang menikah muda, tak lain karena mereka sendiri yang meminta menikah. Anak lelakinya tak mau sekolah dan memilih bekerja lalu meminta dinikahkan. Setelah menikah dan punya anak, istrinya ingin dia dan suaminya hidup terpisah dengan ibunya, tapi ibunya malah menyuruh anak lelakinya menceraikan istrinya karena merasa kehilangan pendukung ekonomi keluarga.

    Mungkin, didaerah tersebut anak laki-laki masih dianggap lebih bermanfaat dan mungkin saja memang lebih bermanfaat disana. Sehingga 'tradisi' itu mungkin saja muncul karena memang tidak adanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam memperoleh pekerjaan sejak dahulu.
    Mengumpulkan rumput, membajak sawah, bertani, menggiring hewan ternak, bengkel motor, saya selama ini hanya melihat anak muda laki-laki yang bekerja. Sedangkan, anak muda perempuan menjaga warung yang sebagian besar milik keluarga sendiri.

    ReplyDelete
  34. Sepertinya bukan hanya masalah ada tidaknya hukum, tp juga penguatan hukum dan bagaimana hukum perkawinan anak" ini disesuaikan dengan harapan dan kebiasaan adat yang masih dijunjung tinggi.. tidak hanya itu, pendidikan seks sepertinya juga perlu... kasihan anak" ini, mereka menamggung konsekuensi dari hal yg belum mereka pahami sepenuhnya akibat ketabuan topik itu,.

    ReplyDelete
  35. excuseme!!! the statement or the caption or whatever it is bikin konotasi 'ibu' menjadi buruk! Coba tolong dicermati baik2. 'Saya lebih senang jadi bla.. bla.. bla.. dari pada jadi ibu.' Untuk orang yg cuma sekedar melihat picture tanpa mau membaca artikel secara lengkap itu bisa menimbulkan salah arti. Please make it correct. Bisa' kan ditulis 'menjadi ibu diwaktu yg tidak tepat or sebelum waktunya'??? Next time dont make only the sentence but also think the meaning for people before u guys post it.

    ReplyDelete
  36. Tak ada yg salah dengan menjadi ibu, dan tak ada yng salah mempunyai keluarga, dan anak, namun di waktu yg tepat, jangan dilihat dari sisi hukum saja, kita juga harus mempertimbangkan mengenai masalah ekonomi, karena kebanyakan pernikahan dini dimulai ketika keluarga perempuan merasa tidak dapat memberikan kebutuhan yg layak, sehingga munculla si "pernikahan dini" ini, pemerintah juga seharusnya mengambil langkah terutama kementrian terkait, jgan salahkab budaya, krna pernikahan dini ini berawal bukan sepenuhnya adat, lebih ke faktor ekonomi, terima kasih

    ReplyDelete
  37. Adat daerah harus dirubah.kasihan mereka menikah diusia dini harus menanggung beban seberat itu.habis nikah langsung ditinggal pergi/cerai.
    HARGAILAH WANITA,WANITA ITU BUKAN PABRIK PEMBUAT ANAK.DAN WANITA BUKAN PELAMPIASAN SEXSUAL!!!

    ReplyDelete
  38. Pernikahan usia dini memang byk membawa dampak negatif dibanding postifnya. Indahnya hanya d awal... Scr psikologis kedewasaan psgn suami istri muda msh kurang shg mudah sekali btengkar lalu cerai atau pergi meninggalkn psgnnya. Scr biologis, sblm 19/20 thn, tubuh wanita (organ reproduksi) blm 100% siap utk bhub.sex & melahirkn. Dampaknya akan terasa stlh 20-30-40 thn k dpn (kasus penyakit kanker serviks, rahim, payudara, osteoporosis). Pengetahuan & wawasan ttg hal tsb jg hrs sampai ke berbagai kalangan. Baik pendidik utk diterangkn kpd para siswa remaja (SMP), pemerintah/pejabat agar ditegaskn kpd bawahannya d lapangan (aga peraturan benar2 ditegakkn), tokoh2 masyrkt agar ada penyuluhan lgsg kpd masyrkt (lwt pengajian, ptemuan PKK/RT/RW dsb). Dan ada sanksi tegas thd pelanggaran aturan...! Melahirkan tnp dibantu tenaga medis sj sdh bs didenda Rp 1jt d daerah sy.. mgkn menikah d usia terlalu muda jg hrs didenda byk.. biar g jd menikah dini dg alasan perbaikan ekonomi. Lbh sip lg jk remaja putri dididik ketrampilan yg bs menambah income klrg, jd tdk dianggap beban oleh ortuny... 😊

    ReplyDelete
  39. Menunda menikah 3-5 thn lbh bijaksana drpd menikah terlalu muda. Smbl sekolah, remaja putri bs bljr keterampilan utk menambah income klrg.. jd tdk dianggap beban ekonomi klrg... mgkn perlu ada sanksi/denda bg yg ingin menikah dini, biar pikir2 lg... Melahirkn tnp bantuan tenaga medis aj skrg kena denda Rp 1jt kok... Demi kebaikan smw pihak... 😄

    ReplyDelete
  40. Resiko kesehatan jg lho... hub sex d usia dini. Organ reproduksi wanita blm siap (walopun sdh menstruasi). 20-40 thn k dpn bs terkena kanker serviks, rahim, pydara, jg osteoporosis.. sedih kaan..? Blm lg karakter anak2 yg lahir & diasuh oleh ortu yg scr psikologis blm dewasa. Tdk hy d Sulbar.. daerah lain yg agak terpencil umumnya msh bgtu budayanya... Ayo qt bangun Indonesia yg maju dan merata d slrh wilayah..

    ReplyDelete
  41. Menunda menikah 3-5 thn lbh bijaksana drpd menikah terlalu muda. Smbl sekolah, remaja putri bs bljr keterampilan utk menambah income klrg.. jd tdk dianggap beban ekonomi klrg... mgkn perlu ada sanksi/denda bg yg ingin menikah dini, biar pikir2 lg... Melahirkn tnp bantuan tenaga medis aj skrg kena denda Rp 1jt kok... Demi kebaikan smw pihak... 😄

    ReplyDelete
  42. Menunda menikah 3-5 thn lbh bijaksana drpd menikah terlalu muda. Smbl sekolah, remaja putri bs bljr keterampilan utk menambah income klrg.. jd tdk dianggap beban ekonomi klrg... mgkn perlu ada sanksi/denda bg yg ingin menikah dini, biar pikir2 lg... Melahirkn tnp bantuan tenaga medis aj skrg kena denda Rp 1jt kok... Demi kebaikan smw pihak... 😄

    ReplyDelete
  43. Saya sedih sekali membaca artikel ini.
    Saya seorang dokter, dan sejak saya masih menjalani pendidikan kedokteran sudah tak terhitung berapa kali saya membantu persalinan wanita di bawah umur (kebanyakan hamil di luar nikah) atau bertemu wanita berusia awal dua puluhan yang sudah beranak tiga. Di saat wanita-wanita lain masih sibuk sekolah atau kuliah, mereka sudah terfokus pada mengurus anak dan suami. Dan hal-hal seperti ini bahkan banyak saya temui di Jakarta, tidak hanya di Sulawesi atau daerah-daerah terpencil lainnya. Rendahnya tingkat pendidikan tentu menjadi salah satu faktor utama. Saya hanya bisa berharap akan adanya pemerataan informasi mengenai buruknya seks usia dini dan pelaksanaan undang-undang yang lebih diperketat sehingga pernikahan dan kehamilan di bawah umur takkan terjadi lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan hanya di jakarta, saya hidup di salah satu desa di daerah Malang. Saya mempunyai sahabat yg bertempat tinggal di sekitaran kampus universitas ternama. Ia bercita-cita menjadi seorang akuntan. Ketika ia tdk lolos SBMPTN ia putus asa dan akan menikah. Saya menjadi malu dan merasa tdk berguna ketika seorang sahabat mengambil keputusan yang sama sekali tidak ia harapkan. Saya hanya berharap agar ia bahagia dan dapat merubah nasib anaknya kelak menjadi lebih baik.

      Delete
    2. sehingga pernikahan dan kehamilan di bawah umur takkan terjadi lagi.
      Kita tidak bisa memastikan hal itu.

      Delete
  44. Sebagai remaja putri berumur 17 tahun saya merasa sangat miris dengan keadaan saudara saya sesama remaja yg bernasib malang. Sayapun memiliki kakak yg harus menikah diumur 17 thn(MBA). Saya melihat sendiri bagaimana perjuangan kakak saya diawal pernikahan yg luar biasa sulit,dia harus memenuhi kebutuhannya dan anaknya seorang diri karna suaminya setelah ijab qabul pergi meninggalkan mereka keluar kota dg alasan belum siap. Tp kakak saya masih lbh beruntung dari sari dkk karna ketika anaknya berumur 1,5thn suaminya pulang dan mereka berkumpul selayaknya keluarga utuh dan berbahagia. Belajar dari kesalahan yg dilakukan kakak saya maka saya merasa umur yg pantas untuk saya menikah adalah 25 tapi ketika teman dan beberapa keluarga saya msh ada yg beranggapan itu usia yg terlalu tua. Tapi saya rasa itu pantas karna ketika saya menikah diumur 25 saya sudah menghabiskan masa remaja saya untuk belajar dan bermain,saya sudah bekerja dan bisa membahagiakan ortu dengan penghasilan saya sendiri. Saya harap pemerintah dan para aktivis yg berhubungan dg kasus seperti ini segera bertindak mungkin dg mengadakan sosialisasi ke semua lapisan masyarakat baik yg ada di perkampungan ataupun kota. Karna pada dasarnya semua kasus yg sama yg berbeda hanya motifnya,kalau di perkampungan motif budaya,di kota motif pergaulan bebas.

    ReplyDelete
  45. Gua juga menikah muda, isteriku 16 tahun dan gua 21 th, sampai sekarang awet2 sj, gk pernah cekcok gk pernah berantem, gk pernah selingkuh, anak gua udah smp kls 1, kl dia mau menikah gua nikahkan, kl mau terus kuliah gua kuliahkan.

    ReplyDelete
  46. Gua juga menikah muda, isteriku 16 tahun dan gua 21 th, sampai sekarang awet2 sj, gk pernah cekcok gk pernah berantem, gk pernah selingkuh, anak gua udah smp kls 1, kl dia mau menikah gua nikahkan, kl mau terus kuliah gua kuliahkan.

    ReplyDelete
  47. Complicated...ini persoalan yg sdh lama terjadi, tidak bisa diselesaikan dgn waktu yg singkat. keseriusan dan kerjasama antara pemerintah, pemuka agama dan tokoh masyarakat setempat untuk sama2 mengedukasi masyarakat secara terus menerus terutama bagi para orang tua...memberi bekal ilmu bagaimana menjadi orang tua yg baik dan bertanggung jawab terhadap keluarganya, sehingga mereka bisa membimbing putra putrinya menggapai mimpi, menjadi orang yg sukses hidup didunia (tidak hanya materi) dan sukses diakhirat kelak. Semoga Indonesia nenjadi lebih baik...Amiin...

    ReplyDelete
  48. Complicated...ini persoalan yg sdh lama terjadi, tidak bisa diselesaikan dgn waktu yg singkat. keseriusan dan kerjasama antara pemerintah, pemuka agama dan tokoh masyarakat setempat untuk sama2 mengedukasi masyarakat secara terus menerus terutama bagi para orang tua...memberi bekal ilmu bagaimana menjadi orang tua yg baik dan bertanggung jawab terhadap keluarganya, sehingga mereka bisa membimbing putra putrinya menggapai mimpi, menjadi orang yg sukses hidup didunia (tidak hanya materi) dan sukses diakhirat kelak. Semoga Indonesia nenjadi lebih baik...Amiin...

    ReplyDelete
  49. Nikah dini vs MBA?
    Byk remaja d sini d Sulbar sudah mengenal Freesex. Jd ortu2 d sini berpikir mending anak2x segera d nikahkan...

    ReplyDelete
  50. Bukan masalah menaikkan usia perkawinan, tapi lebih tepat jika memperbaiki edukasi akhlak dan cara berpikir masyarakatnya itu sendiri.

    ReplyDelete
  51. I guess it's not only about the policy about marriages under the age, but it's also about the curative action for those who have married as they still have probabilities to rise and reach their dreams. There should be socializations or policy to assist those girls who have turned to be mothers, so they can be independent though their husbands leave them for any reasons. Government should work on both sides, the avoidance of more marriages under the age and the solutions for those who already experienced the marriages under the age. The curative actions will not only help those young mothers to live independently but also to save their children having a bright future that they will be able going to school and growing up well. Those things will finally go hand in hand and give results to both of them.

    ReplyDelete
  52. Semoga kita dapat memberikan pembelajaran kepada mereka melalui penyuluhan yang bermanfaat bagi mereka. Pemerintah dan perangkat desa juga berperan sangat penting disana

    ReplyDelete
  53. Miris melihat cerita diatas. Tapi merubah budaya tidak semudah membalikan telapak tangan. Penyuluhan pun tidak akan efektif jika dilakukan hanya satu kali. Negara kita memiliki kebiasaan buruk ketika terjadi masalah akan segera bertindak tetapi seterusnya hanya wacana saja. Menurut saya pendidikan kesehatan reproduksi penting untuk dimasukkan kedalam kurikulum sekolah, karena melihat perilaku remaja sekarang yg sangat beresiko. Remaja sekarang cenderung penasaran mengenai seks tetapi wawasan mereka sangat kurang, karena saya juga memiliki adik
    perempuan usia 13 tahun, dan pengetahuannya melebihi saya ketika usia yg sama dulu. Banyak orang menganggap pendidikan kesehatan reproduksi mata pelajaran yang dianggap porno, tetapi kita harus berfikir profesional sebagai orang dewasa karena semuanya demi kebaikan dan masa depan mereka. Dan juga orang tua harus mendapat pendidikan kesehatan reproduksi sehingga antara orang tua dan anak memiliki timbal balik yang seimbang. Pendidikan Kesehatan reproduksi bukan hanya menyangkut hal yang berhubungan dengan biologis, tetapi budaya dan adat dibahas jelas disana.

    ReplyDelete
  54. Tuhan telah menetapkan nasib masing - masing. Beruntunglah kamu yang masih menikmati masa muda itu. Jalanilah dengan penuh rasa syukur kamu yang sudah menjadi Ibu Muda. Salam

    ReplyDelete
  55. Para orangtua dan masyarakat sekitar sangat perlu penyuluhan ya kalau kasusnya seperti ini,,

    ReplyDelete
  56. Padahal di usia remaja itu adalah saat dimana anak remaja mencari banyak teman, berorganisasi, mengembangkan kreatifitasnya, tapi masa2 itu harus berakhir dengan menikah muda. sangat disayangkan

    ReplyDelete
  57. Semoga orang tua yg masih muda muda ini selalu bersemangat,,, toh mereka menikah secara baik baik, masih bisa menimba ilmu agama dan ilmu pengetahuan yg berguna utk lebih cemerlang dalam akhlak dan mendidik anak2nya,,, tdk mudah dihasut Orang2 yg hanya utk kepentingan kerjaannya,,

    ReplyDelete
  58. Ini memang bukan sekedar masalah memperbaiki UU perkawinan, atau menghapus tradisi perkawinan dini. Tapi bagaimana membuat pondasi kokoh dalam sebuah keluarga baik dari sisi materi dari Dan spiritual sehingga orang tua bisa dapat benar2 menaungi Dan mengantar anak nya sampai batas yg mumpuni untuk mandiri berumah tangga. I Agree with Helen opinion. Dasar ekonomi yg just, jaminan pendidikan Dan kesehatan yg baik tentu tidak akan membuat orang tua ingin cepat cepat mengalihkan tanggung jawab terhadap anaknya ke pada pihak lain.

    ReplyDelete
  59. Hanya seseorang yg berani membuat perubahan yg mereka butuhkan

    ReplyDelete
  60. Hanya seseorang yg berani membuat perubahan yg mereka butuhkan

    ReplyDelete
  61. Jangan hanya mengupayakan utk mengurangi pernikahan dini,tetapi juga mengedukasi tentang sex dini dg cara yang tepat pula.karena sex dini tanpa pengetahuan yg jelas bisa mengakibatkan pernikahan dini

    ReplyDelete
  62. Turut prihatin atas kejadian seperti ini, semoga kedepannya bisa lebih baik lagi

    ReplyDelete
  63. Daftar Lengkap Produk 100% Herbal Sebagai Berikut

    VIMAX ASLI CANADA - OBAT PEMBESAR PENIS
    VAGINA PINGGUL GETAR BULU
    OBAT PENGGEMUK BADAN
    OBAT PENGHILANG TATTO
    OBAT KUAT VIAGRA ASLI USA
    HAMMER OF THOR ASLI
    OBAT KLG ASLI PEMBESAR PENIS
    ALAT BANTU SEX PRIA - VAGINA SENTER ELEKTRIK

    Untuk Pemesanan :
    0813 1866 0300 ( T-SEL )
    0812 1526 5792 ( T-SEL )
    24BF7C20 / D858284F PIN BB

    CARA PEMESANAN :
    NAMA :
    ALATMAT :
    NO. HP :
    JENIS OBAT :

    CONTOH :
    Hermawan W,jl Pahlawan no 57 Surabaya, Vimax Asli.
    Akan kami balas dengan SMS nomor REKENING kami,
    Kemudian silahkan tranfer, sesuai dengan harga obat tertentu.
    Setelah anda transfer konfirmasi ke kami kirim nama dan alamat yang jelas supaya barang cepat sampai tujuan.

    KAMI JUAL OBAT HERBAL ASLI, BUKAN OBAT YG DI JUAL DI PASARAN. JADI HARGANYA, SEDIKIT BERBEDA DENGAN, OBAT HERBAL DI TEMPAT LAIN. YANG KAMI JUAL OBAT HERBAL TERBUKTI 100% AMAN DAN BERHASIL !!!

    JANGAN TERGIUR DENGAN OBAT HERBAL HARGA MURAH !!!

    NO PENIPUAN, MURNI BISNIS

    ANDA BUTUH, KAMI PERLU !!!
    Hati-hati Penipuan, karena saat ini sering terjadi.
    Hati-hati Dengan Pen JUAL OBAT Herbal,
    yang tidak melayani anda KONSULTASI LANGSUNG.
    atau HANYA MENERIMA SMS saja.
    Tanyakan dengan jelas, proses transaksi,
    Dan prosedur pengirriman produk OBAT HERBAL.
    Sebelum mentransfer sejumlah uang,
    atau anda akan menyesal kemudian.
    Pengiriman Kami Express via :
    TIKI, JNE atau KANTOR POS
    (1-2 Hari sampai )
    INGAT !!! Hanya Kami Pen JUAL OBAT HERBAL yang Berpengalaman.
    Kami Jual Bukan Untuk Tipu Menipu Anda Butuh Kami Siap Melayani 24jam Non Stop.

    ReplyDelete
  64. AGEN DOMINO Terpercaya di Indonesia VIPQIUQIU99.COM Merupakan Situs dengan Server Terbaik serta Permainan yang Fair dan Nyata, 200%(NOROBOT). Proses Transaksi Deposit & Withdraw Tercepat dengan Tingkat Keamanan Terpercaya. VipQiuQiu99.com juga Menyediakan 6 Games yang dapat Dimainkan hanya Menggunakan Satu ID :
    - Play Domino99
    - Play AduQ
    - Play BandarQ
    - Play Poker
    - Bandar Poker
    - Capsa Susun
    - Sakong
    Untuk Deposit & Withdraw hanya Rp,20.000
    Member juga bisa mendapatkan Bonus yang sudah kami sediakan yaitu :
    - Bonus Refferal 10%+10% Setiap Jum'at
    - Bonus Turnover 0,3% Setiap Senin
    Untuk Keterangan Lebih Lanjut Atau Jelasnya Silahkan Hubungi Kami Melalui :
    - Live Chat
    - No.Hp (+85570931456)
    - Bbm (2B48B175)
    - Fecebook (VIPQIUQIU99)
    Buruan Bergabung Bersama kami Di VIPQIUQIU99.COM atau Klik Link Kami : https://goo.gl/pAGgYe dan Nikmati Berbagai Permainan Serta Promo yang telah Kami sediakan untuk Para Pecinta Judi Online!!!

    ReplyDelete