Tuesday, 8 December 2015

Kisah Dewi: Rumah Pelacuran di Papua

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Dewi tinggal dan bekerja di lokalisasi Timika. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

Timika adalah kota kecil kotor yang terletak di perbatasan Provinsi Papua. Timika berada pada bayang-bayang tambang emas terbesar di dunia, Freeport. Tetapi kekayaan luas yang membentang beberapa mil jauhnya berdampak kecil terhadap kehidupan sebagian besar orang di Timika.

Papua berjuang dengan tingkat kemiskinan yang tinggi. Banyak keluarga mengandalkan sumber pendapatan mereka sepenuhnya pada penangkapan ikan atau sumber-sumber pendapatan pertanian lainnya. Pekerjaan seringkali langka dan kesempatan kerja tidak banyak. Bagi beberapa anak perempuan muda, hanya ada satu cara untuk menjalani hidup yang layak.

"Saya telah bekerja di lokalisasi  selama kurang lebih tiga bulan," kata Dewi*. Dewi sekarang tinggal di salah satu lokalisasi yang kotor di luar Timika. Kliennya kebanyakan laki-laki kelas pekerja dari desa-desa sekitarnya. Pelanggan saya antara lain "sopir truk, pekerja tambang dan tentara."


Dewi menunjukkan kamarnya yang sempit dan untuk menaruh kasur saja hampir tidak cukup. Seiring dengan usianya, seprai dan bantal terbuat dari kain perca dengan desain anak-anak. Retakan di dinding hijau berjamur menunjukkan kamar-kamar lain dimana anak-anak perempuan muda juga melakukan praktek transaksi.

Kamar Dewi. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Ini merupakan pekerjaan yang sangat berbahaya karena tempat lokalisasi itu berada. Angka terakhir menunjukkan bahwa meski angka prevalensi HIV nasional di Indonesia adalah 0,5 persen, angka tersebut meningkat menjadi 2,3 persen di Tanah Papua. Artinya bahwa daerah tersebut mengalami epidemi umum.

Timika sangat dipengaruhi oleh epidemi ini. Timika merupakan pusat pekerja seks – kelompok kunci yang beresiko mengidap HIV. Lokalisasi dengan perputaran yang tinggi menjadi perhatian khusus karena dapat menyebarkan penyakit HIV.

Dewi sepertinya mengetahui resiko yang ia hadapi setiap hari: "Saya tahu bahwa HIV merupakan ancaman. Saya tahu bahwa AIDS bisa membunuh. "Dia menegaskan bahwa para pelanggannya menggunakan kondom. Tetapi mereka tidak selalu menggunakan kondom. "Tadi malam saya bersama seorang laki-laki yang melepas kondomnya sebelum melakukan penetrasi," katanya.

Penggunaan kontrasepsi pada pekerja seks sangat penting untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di Papua. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Di lokalisasi tersebut, terdapat klinik kesehatan kecil. HIV/AIDS merupakan fokus utama. Dinding klinik ditutupi poster yang mengingatkan para pengunjung tentang kemungkinan penyakit. Alat kontrasepsi dipromosikan dan diberikan secara gratis.

Klinik tersebut juga melakukan tes HIV secara tetap. "Tes dilakukan terhadap sejumlah anak perempuan dengan hasil positif," kata petugas kesehatan Ibu Iriyani. Pesan Ibu Iriyani kepada anak-anak perempuan jelas, sederhana, dan diulang-ulang: "Gunakan kondom, setiap waktu"

Pada hari khusus ini, perwakilan dari LSM kesehatan setempat, Yayasan Caritas Timika Papua mengunjungi lokalisasi itu. Perwakilan yayasan, Pak Jerry, telah memerangi HIV/AIDS di daerah ini selama beberapa waktu. Kelihatannya ia sangat optimis.

"HIV merupakan masalah di Timika," kata Pak Jerry. "Tetapi keadaannya kini semakin membaik. Banyak hal telah berubah. "Pak Jerry mengatakan bahwa HIV/AIDS mulai kehilangan stigmanya. Pengetahuan tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS semakin membaik. Ini merupakan langkah pertama yang penting untuk mengakhiri epidemi.

Anak-anak perempuan di lokalisasi Papua menghadapi resiko setiap hari. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

Dewi tidak bisa mengatakan berapa lama ia akan terus bekerja di lokalisasi. "Saya bisa mendapatkan uang dan membantu keluarga saya, khususnya saudara-saudara perempuan saya jadi buat saya ini hal yang baik," katanya. Seperti pekerja seks lainnya di sini, bulan bisa menjadi tahun, dan setiap hari ia menghadapi resiko penyakit yang mematikan.

Ketika didesak, Dewi mengatakan bahwa ia memiliki cita-cita untuk masa depan di luar pekerjaannya saat ini: "Saya ingin memulai usaha, mungkin toko makanan."

Tetapi untuk saat ini, ada hal-hal lain yang Dewi pikiran. Ia duduk, di bawah lampu kecil berwarna merah yang menyala sepanjang hari dan menunggu pelanggan berikutnya.

*Bukan nama asli


Indonesia berada pada saat yang kritis untuk HIV/AIDS: Indonesia adalah salah satu dari sembilan negara di dunia dimana tingkat infeksi meningkat.

Sekarang ini UNICEF sedang mendukung Program Pendidikan Kecakapan Hidup HIV/AIDS di Papua. Program ini membantu para remaja memperoleh pengetahuan dan mengakses layanan untuk melindungi mereka dari penularan HIV/AIDS.

Ada sekitar 50.000 infeksi HIV baru di kalangan remaja berusia 15-19 pada 2014, termasuk 15 persen infeksi baru. Saat ini ada sekitar 220.000 remaja yang hidup dengan HIV di Asia Pasifik, dengan 15.000 infeksi baru di Indonesia tahun lalu. 

9 comments:

  1. kemiskinan harus di berantas, pemerataan ekonomi sosial hrs ditingkatkan, mereka adalah kotban dari suatu sistem dan keadaan, karena lemahnya ekonomi dan ke imansn mereka tergerus arus,... sedih

    ReplyDelete
  2. Keadaan yang membuat mereka seperti, semoga ada jalan untuk mereka mendapatkan kehidupan lebih baik. Miris

    ReplyDelete
  3. Keadaan yang membuat mereka seperti, semoga ada jalan untuk mereka mendapatkan kehidupan lebih baik. Miris

    ReplyDelete
  4. Enter your comment...tragis sedih miris


    ReplyDelete
  5. Sedih mendengarnya, saya yakin mereka melakukan hal tersebut karena keadaan ekonomi.

    ReplyDelete
  6. Pemerataan ekonomi mjd salah satu jln utk mengurangi prostitusi.krn mrk yg melakukannya sebagian besar krn desakan ekonomi.miris liat kenyataan spt ini di tanah papua yg kaya...di tanah mereka sendiri, tetapi mrk terabaikan...

    ReplyDelete
  7. Tuhan lihat n dgr jerit tangis mrk yg butuh pertolongan Mu.

    ReplyDelete