Tuesday, 1 December 2015

Pemberian ASI yang lebih baik: solusi untuk masalah kekurangan gizi

Sonya memberikan konseling tentang menyusui kepada ibu baru. ©UNICEF Indonesia/2015/Harriet Torlesse

Kabupaten Kupang merupakan salah satu kabupaten yang mengalami krisis permasalahan kekurangan gizi di NTT.

Sonya Timuli, tiga puluh dua tahun, bekerja setiap hari di kabupaten dan menghadapi permasalahan ini. Ia telah menjadi kader posyandu di sebuah desa kecil di daerah ini selama tujuh tahun terakhir.

Para kader posyandu seperti Sonya melihat anak-anak yang tak terhitung jumlahnya yang mengalami kekurangan gizi. Survei terbaru yang dilakukan oleh UNICEF dan Action Contre La Faim menunjukkan bahwa 21 persen anak-anak di daerah ini mengalami kurang gizi akut (sangat kurus) dan 52 persen mengalami stunting (terlalu pendek untuk usia mereka).

Untuk mengatasi masalah ini, Sonya memberikan berbagai layanan gizi kepada masyarakat  di desanya. Salah satu bagian terpenting dari pekerjaannya adalah memberikan bimbingan dan konseling kepada ibu-ibu baru tentang berbagai praktek pemberian ASI yang tepat.


Menyusui merupakan fondasi terbaik bagi gizi seorang anak. ASI melindungi bayi terhadap penyakit dan membantu mereka tumbuh kembang secara optimum. Oleh karenanya, para ibu baru dianjurkan untuk memberikan ASI secara eksklusif selama enam bulan pertama dan terus memberikan ASI setidaknya sampai anak usia dua tahun dengan makanan pendamping ASI.

"Banyak ibu tahu bahwa mereka sebaiknya memberikan  ASI eksklusif selama enam bulan, tetapi kebanyakan dari mereka memperkenalkan makanan lain ketika anak berusia empat atau lima bulan," kata Sonya. "Beberapa ibu mengatakan bahwa ASI saja tidak cukup untuk tumbuh kembang bayi. Beberapa ibu merasa tertekan oleh anggota keluarga lainnya untuk memberikan makanan kepada bayi mereka."

Sonya memperoleh informasi yang tidak tepat dan memiliki pemahaman yang keliru tentang ASI. Untuk anak pertamanya, ia memberikan ASI eksklusif hanya selama satu bulan dan berhenti memberikan ASI kepada anaknya pada usia 11 bulan. Tetapi untuk anak terakhirnya, ia memberikan ASI eksklusif selama enam bulan dan terus memberikan ASI selama tiga tahun.

Sonya mengatakan bahwa ia melihat perbedaan nyata terhadap perkembangan dua anak tersebut. "Anak laki-laki sulung saya seringkali lambat dan melupakan hal-hal dengan mudah. Tetapi anak perempuan bungsu saya berbeda. Ia belajar dengan cepat dan mudah mengingat hal-hal dengan sangat baik ".

Cerita-cerita seperti ini sangat umum di daerah tersebut. Kekurangan gizi pada awal kehidupan menyebabkan perkembangan kognitif yang buruk pada kehidupan yang akan datang. Anak-anak ini menunjukkan prestasi yang kurang baik di sekolah dan menjadi kurang produktif saat mereka dewasa.

UNICEF dan Action Contre La Faim saat ini memfasilitasi program pelatihan bagi Sonya dan kader-kader di daerah tersebut. Pelatihan ini meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi mereka tentang pemberian ASI dan pemberian makanan pendamping ASI sehingga mereka akan mampu untuk mendukung ibu-ibu baru dalam memberikan makan bayi mereka secara tepat.

Mendukung ibu dengan ketrampilan yang tepat dapat memberikan solusi dalam mengatasi permasalahan kurang gizi yang sedang meningkat di NTT.

Inisiatif ini merupakan bagian dari program UNICEF yang lebih besar untuk mendukung pemerintah dalam menanggulangi dan mengatasi kekurangan gizi di seluruh Indonesia.