Annual Report

Sunday, 7 July 2013

Rumah Honai Markus - Rintangan akses pendidikan di Provinsi Papua

Markus meninggalkan desa asalnya
pada usia 14 tahun demi bersekolah.
© UNICEF Indonesia / 2012 / Klaus
 Megapura, Provinsi Papua, Juli 2013 - Empat tahun telah berlalu sejak Markus bertemu orang tuanya, dan paling tidak setahun lagi sebelum ia bisa pulang ke desa Kalbok yang dapat ditempuh dengan 10 hari berjalan kaki melalui dataran tinggi Papua. Remaja berusia 18 tahun yang duduk di bangku kelas 3 SMA ini pun sadar bahwa ia takkan pernah mengenyam bangku sekolah jika tidak meninggalkan desa asalnya.

Dalam kurun waktu itu, Markus tumbuh dengan pesat dan kini telah menjadi kepala suatu honai (gubuk tradisional) yang dijadikan rumah kos untuk 50 remaja dan orang muda di Megapura. Mereka semua bersekolah di tingkat SMA atau institusi kejuruan di kota Wamena.

"Kabupaten-kabupaten di dataran tinggi Papua memiliki indikator anak terburuk dari seluruh negara," jelas Margaret Sheehan, Kepala Kantor Lapangan UNICEF di Papua dan Papua Barat. Lebih dari 120 dari setiap 1.000 anak meninggal sebelum melewati usia lima tahun, atau lebih dari tiga kali rata-rata nasional. Hanya sepertiga penduduk memiliki akses terhadap air bersih dan kurang dari seperempat memiliki akses jamban.

Tuesday, 2 July 2013

Bagaimana seorang relawan mencegah kekerasan terhadap anak di sekolah di Jawa Tengah

Erry dalam salah satu sesi diskusi grup
tentang pencegahan kekerasan.
© UNICEF Indonesia/2012.
Mencegah kekerasan di sekolah tidaklah mudah dan membutuhkan visi yang kuat, pengetahuan khusus, serta pengalaman dan kesabaran. UNICEF tidak dapat melakukan hal ini sendirian, dan karena itu bekerja dengan pemerintah dan mitra-mitra lainnya. Selain itu, para relawan juga memainkan peran yang sangat besar.

Salah satu contoh terbaik adalah kegiatan yang dilakukan Erry Pratama Putra, seorang pria berusia 37 tahun dari Klaten, Jawa Tengah. Ia pertama kali terlibat dengan UNICEF enam tahun yang lalu, ketika menjadi relawan tanggap darurat pasca gempa di Yogyakarta dan Klaten.

"Memastikan anak-anak terlindungi dari segala bentuk kekerasan, baik di rumah, sekolah atau masyarakat adalah tanggung jawab kita semua. Saya hanya bisa menawarkan jiwa, hati, pikiran, semangat dan idealisme untuk menciptakan dunia yang layak bagi anak-anak - karena masa depan mereka telah dipercayakan kepada kita."

Tuesday, 4 June 2013

Yang penting adalah abilitasnya - UNICEF Indonesia meluncurkan laporan Situasi Anak di Dunia 2013 tentang anak dengan disabilitas

Bersama beberapa pemenang medali emas Olimpiade Khusus dan aktivis-aktivis hak penyandang disabilitas, UNICEF Indonesia meluncurkan laporan State of the World's Children (Situasi Anak di Dunia), bersama dengan Kementerian Sosial dan mitra pemerintah lainnya pada tanggal 30 Mei 2013 kemarin.

"Ketika berbicara tentang anak-anak dengan kebutuhan khusus, kita sering lebih berpikir tentang apa yang mereka TIDAK bisa lakukan, daripada melihat apa yang mereka BISA berikan sebagai kontribusi kepada masyarakat," ucap Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Angela Kearney dalam acara yang berlangsung di gedung Kementerian Sosial, Jakarta.

"Hal ini perlu diubah. Seperti di banyak negara lain, anak dengan disabilitas termasuk anak-anak yang paling terpinggirkan dan tak terlihat di Indonesia. Seringkali orangtua hanya menyembunyikan mereka, karena malu atau tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk membantu mereka."

Angela Kearney dengan Adi (kiri) dan Stephanie (kanan), para pemenang medali emas di Special Olympics© UNICEF Indonesia / 2013 / Klavert.

Monday, 27 May 2013

Mengintip Proyek UNICEF di Rappocini, Makassar.

Ditulis oleh Dorkas, anggota tim penggalang dana di UNICEF Indonesia.

Tempat yang kami tuju untuk field trip UNICEF tidak seperti dugaanku. Bukan di tempat terpencil yang jauh dari kota, tapi ada di dalam kotanya sendiri, yang menunjukkan kompleksitas dari keragaman ekonomi penduduknya. Kota ini indah namun di dalamnya masih banyak ibu dan anak-anak yang masih kurang dari standarisasi hidup layak dan sejahtera.

Proyek kali ini adalah tentang proyek Urban WASH (Water, Sanitation and Hygiene). Sebelum pergi ke lokasi proyek, mitra UNICEF menjelaskan kepada kami tentang gaya hidup warga yang akan kami kunjungi, keadaan mereka, dan mengapa mereka yang dijadikan sasaran dari proyek ini.

Namun, yah.. sekedar teori bagi telinga tidak akan begitu berarti bukan kalau tidak dilihat dengan mata kepala sendiri.

Wednesday, 15 May 2013

Oralit dan Zinc: Solusi sederhana penyelamat nyawa anak-anak.



Veronika sangat lemas karena
kehilangan banyak cairan tubuh
©UNICEF Indonesia/2013/Rob Patmore
Hari masih cukup pagi di Tambolaka, Sumba, ketika Teresia dan suaminya bergegas membawa putri mereka untuk diobati. Veronika dalam keadaan sangat lemah, dan telah kehilangan banyak cairan tubuh. Ketika ia mulai muntah-muntah dan mencret, seorang supir Angkot segera mengantarkan mereka ke Puskesmas setempat.

Usia Veronika adalah 1,5 tahun, dan ia menjadi semakin lemah dengan setiap jam yang berlalu karena diare dan dehidrasi yang dialaminya. Teresia hanya bisa menatap sedih dan memeluk Veronika dengan erat, sambil berharap nyawa putrinya bisa diselamatkan.

"Kami sangat takut dan khawatir," kata Teresia. "Kami pernah mendengar bahwa anak-anak bisa mati dari hanya diare," tambahnya sambil melihat putrinya. Salah satu petugas kesehatan tiba dengan sebuah sachet oralit kecil. Ia juga diberi tablet zinc yang diencerkan dalam satu sendok teh air, yang akan membantunya melawan diare yang bisa mematikan ini.

Dengan setiap tegukan, hidup seolah-olah mengalir kembali ke tubuh mungil Veronika. Hebatnya, hanya dalam beberapa jam, kondisinya membaik secara dramatis dan ia pun bisa tersenyum lagi. Anda dapat membayangkan air mata kelegaan dan kebahagiaan yang mengalir di wajah Teresia saat ia sadar putrinya tidak menderita lagi.