Annual Report

Tuesday, 3 December 2013

Mengakhiri Kekerasan di Sekolah Lewat Disiplin Positif

Devi Asmarani


Setahun setelah memulai program Disiplin Positif, suasana di kelas telah berubah total. Siswa tidak takut guru mereka lagi. ©UNICEFIndonesia/2013/Esteve.

Selama 24 tahun mengajar, guru kelas 5 Darius Naki Sogho sering menggunakan tangan atau tongkat rotan untuk menghukum murid-muridnya.

“Saya dulu sering memukul murid-murid saya kalau mereka nakal atau tidak memperhatikan saya di kelas,” ujar Bapak Darius.

Namun setahun terakhir ini, Bapak Darius telah belajar untuk menguasai emosinya di kelas, dan berusaha mengajar dengan cara yang tidak menyakiti atau menakutkan murid-muridnya.

Ia melakukan ini melalui pendekatan Disiplin Positif, metode pengajaran yang sedang dilatih untuk sekelompok guru di Papua sebagai bagian dari kerjasama UNICEF dan pemerintah daerah untuk mengakhiri kekerasan di sekolah.

Tuesday, 26 November 2013

Blog dari Tacloban: Gadis kecil bergaun putih

Sepasang boneka di antara puing-puing di kota Tacliban, Filipina.
© UNICEF Philippines/2013/JMaitem

Oleh Kent Page, Senior Advisor Strategic Communications, UNICEF Filipina

Dua hari yang lalu, bersama dengan beberapa orang wartawan, kami mengunjungi salah satu pemukiman yang paling terpukul topan Haiyan di kota Tacloban. Pemukiman tempat ribuan orang tinggal ini terletak sekitar 200 meter dari pesisir pantai dan cukup kumuh.

Namun sudah tidak ada lagi yang tersisa. Daerah ini terkena kekuatan penuh topan super Haiyan, dan semua rumah pun tersapu oleh topan, gelombang badai, dan angin kencang.  

Barang-barang dan keperluan rumah tangga sehari-hari berserakan di mana-mana. Sebuah boneka di sini, sepotong baju di sana, remote control TV di satu sisi, dan foto album keluarga di seberangnya.

Saat sedang menyelesaikan pekerjaan kami, saya memutuskan untuk berjalan-jalan. Sekitar 75 meter kemudian, saya melihat dua jenazah. Satu di antaranya tampak seperti seorang pemuda, dan yang satunya adalah seorang gadis kecil bergaun putih, usianya sekitar enam tahun.


Friday, 22 November 2013

Indonesia meluncurkan kampanye anti kekerasan terhadap anak (#ENDviolence)

Oleh: Michael Klaus


Direktur Kesejahteraan Sosial Anak di Kementerian Sosial, Edi Suharto (kiri), menghubungi helpline TeSA 129 untuk mencari tahu tentang jenis masalah yang sering dilaporkan anak. ©UNICEF Indonesia/2013/Dionisio 

JAKARTA, 20 November 2013 - Pada Hari Anak Universal, Indonesia bergabung dengan inisiatif global yang dinamakan #ENDviolence against Children.

"Peluncuran kampanye hari ini hanyalah awal dari sebuah proses yang panjang. Kami telah berhasil membentuk aliansi yang kuat untuk meningkatkan kesadaran tentang dampak kekerasan pada anak-anak dan untuk memperkuat pencegahan dan sistem respon. Selama beberapa bulan mendatang, kami akan bekerja keras untuk mendapatkan lebih banyak mitra lagi," ucap Deputi Perwakilan UNICEF Indonesia Marc Lucet pada acara yang diselenggarakan bersama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Sosial, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta Komisi Perlindungan Anak.

Sejauh ini, Indonesia tidak memiliki data nasional tentang kekerasan terhadap anak. Pemerintah dengan dukungan dari US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan UNICEF tengah melakukan survei nasional tentang prevalensi kekerasan fisik, emosional dan seksual terhadap anak laki-laki dan perempuan di 25 dari 33 provinsi. Hasil dan rekomendasi survey ini akan dipublikasikan tahun depan.

Wednesday, 20 November 2013

Foto: Topan Haiyan, Filipina



UNICEF mengirimkan pasokan darurat ke daerah-daerah di Filipina yang dilanda topan Haiyan pada tanggal 8 November. Perkiraan terbaru menunjukkan bahwa hingga 5 juta anak-anak terdampak oleh bencana ini.

Anda dapat menyumbang lewat: www.supportunicefindonesia.org

Untuk melihat keterangan foto, tampilkan galeri pada layar penuh dan klik 'show info' di sudut kanan atas.

Tuesday, 19 November 2013

Stop Kekerasan Terhadap Anak! #ENDviolence



Setiap hari, meskipun tidak semuanya tampak, anak-anak menjadi sasaran kekejaman dan pelecehan. Hal ini terjadi di seluruh dunia dan di seluruh lingkungan - publik dan swasta, perkotaan dan pedesaan, bahkan di dalam keluarga. Bergabunglah dengan kami untuk sorot yang tidak terlihat. Kunjungi http://www.unicef.org/endviolence untuk informasi lebih lanjut.

Artikel Terkait: