Annual Report

Tuesday, 4 June 2013

Yang penting adalah abilitasnya - UNICEF Indonesia meluncurkan laporan Situasi Anak di Dunia 2013 tentang anak dengan disabilitas

Bersama beberapa pemenang medali emas Olimpiade Khusus dan aktivis-aktivis hak penyandang disabilitas, UNICEF Indonesia meluncurkan laporan State of the World's Children (Situasi Anak di Dunia), bersama dengan Kementerian Sosial dan mitra pemerintah lainnya pada tanggal 30 Mei 2013 kemarin.

"Ketika berbicara tentang anak-anak dengan kebutuhan khusus, kita sering lebih berpikir tentang apa yang mereka TIDAK bisa lakukan, daripada melihat apa yang mereka BISA berikan sebagai kontribusi kepada masyarakat," ucap Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Angela Kearney dalam acara yang berlangsung di gedung Kementerian Sosial, Jakarta.

"Hal ini perlu diubah. Seperti di banyak negara lain, anak dengan disabilitas termasuk anak-anak yang paling terpinggirkan dan tak terlihat di Indonesia. Seringkali orangtua hanya menyembunyikan mereka, karena malu atau tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk membantu mereka."

Angela Kearney dengan Adi (kiri) dan Stephanie (kanan), para pemenang medali emas di Special Olympics© UNICEF Indonesia / 2013 / Klavert.

Monday, 27 May 2013

Mengintip Proyek UNICEF di Rappocini, Makassar.

Ditulis oleh Dorkas, anggota tim penggalang dana di UNICEF Indonesia.

Tempat yang kami tuju untuk field trip UNICEF tidak seperti dugaanku. Bukan di tempat terpencil yang jauh dari kota, tapi ada di dalam kotanya sendiri, yang menunjukkan kompleksitas dari keragaman ekonomi penduduknya. Kota ini indah namun di dalamnya masih banyak ibu dan anak-anak yang masih kurang dari standarisasi hidup layak dan sejahtera.

Proyek kali ini adalah tentang proyek Urban WASH (Water, Sanitation and Hygiene). Sebelum pergi ke lokasi proyek, mitra UNICEF menjelaskan kepada kami tentang gaya hidup warga yang akan kami kunjungi, keadaan mereka, dan mengapa mereka yang dijadikan sasaran dari proyek ini.

Namun, yah.. sekedar teori bagi telinga tidak akan begitu berarti bukan kalau tidak dilihat dengan mata kepala sendiri.

Wednesday, 15 May 2013

Oralit dan Zinc: Solusi sederhana penyelamat nyawa anak-anak.



Veronika sangat lemas karena
kehilangan banyak cairan tubuh
©UNICEF Indonesia/2013/Rob Patmore
Hari masih cukup pagi di Tambolaka, Sumba, ketika Teresia dan suaminya bergegas membawa putri mereka untuk diobati. Veronika dalam keadaan sangat lemah, dan telah kehilangan banyak cairan tubuh. Ketika ia mulai muntah-muntah dan mencret, seorang supir Angkot segera mengantarkan mereka ke Puskesmas setempat.

Usia Veronika adalah 1,5 tahun, dan ia menjadi semakin lemah dengan setiap jam yang berlalu karena diare dan dehidrasi yang dialaminya. Teresia hanya bisa menatap sedih dan memeluk Veronika dengan erat, sambil berharap nyawa putrinya bisa diselamatkan.

"Kami sangat takut dan khawatir," kata Teresia. "Kami pernah mendengar bahwa anak-anak bisa mati dari hanya diare," tambahnya sambil melihat putrinya. Salah satu petugas kesehatan tiba dengan sebuah sachet oralit kecil. Ia juga diberi tablet zinc yang diencerkan dalam satu sendok teh air, yang akan membantunya melawan diare yang bisa mematikan ini.

Dengan setiap tegukan, hidup seolah-olah mengalir kembali ke tubuh mungil Veronika. Hebatnya, hanya dalam beberapa jam, kondisinya membaik secara dramatis dan ia pun bisa tersenyum lagi. Anda dapat membayangkan air mata kelegaan dan kebahagiaan yang mengalir di wajah Teresia saat ia sadar putrinya tidak menderita lagi.

Tuesday, 30 April 2013

Malaria, penyakit yang paling ditakuti seorang ibu


Eta (6 tahun) dan ibunya, Deborah
© UNICEF Indonesia / 2013 / Rob Patmore
Tidak ada perasaan yang lebih sedih bagi seorang ibu daripada berpikir bahwa ia akan kehilangan anaknya.  Namun, di Sumba, salah satu pulau di Indonesia di Nusa Tenggara Timur, terlalu banyak ibu telah menyaksikan anak-anak mereka meninggal  dunia akibat malaria. Malaria terinfeksi melalui gigitan nyamuk yang endemik di pulau Sumba.

Deborah mengerti perasaan ini. Putrinya, Eta, pernah mengalami demam tinggi sampai ia gemetar. "Saya pikir dia akan mati," Deborah ingat bagaimana takutnya ia malam itu.

Eta dibawa ke Puskesmas terdekat dan diambil darahnya untuk di tes. Hasil tes menyatakan ia terkena malaria, dan salah satu jenis yang paling berbahaya.

Monday, 15 April 2013

Bebas malaria juga akan menguntungkan industri pariwisata

"Saya sangat paham tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan malaria", ucap Pak Thamrin Wata, seorang pejabat Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di Provinsi Sulawesi Selatan. "Pengetahuan tentang penyakit ini sangat penting untuk pekerjaan saya, karena kita harus melindungi daerah wisata dari malaria agar lebih menarik bagi wisatawan. Sebelum saya bergabung dengan POKJA (kelompok kerja) malaria ini, saya pikir pariwisata hanya bersangkutan dengan penyakit menular seksual dan infeksi HIV. Tapi sekarang saya sadar bahwa malaria juga berperan."

Seorang bayi tidur di bawah kelambu di kabupaten Selayar
© UNICEF Indonesia / 2012 / Asri
Pak Thamrin Wata telah bekerja di Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan sejak tahun 1990. Selama ini, ia tidak pernah menerima informasi yang jelas tentang malaria sehingga ia tidak menganggap malaria penyakit serius yang perlu ditakuti.

Pada bulan Oktober 2012, Pak Thamrin Wata menghadiri lokakarya tentang malaria di Makassar, yang disponsori oleh UNICEF bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam lokakarya ini ia belajar bahwa malaria adalah penyakit yang berbahaya, terutama bagi anak-anak dan wanita hamil, jika tidak dikelola dengan benar oleh petugas kesehatan. Ini juga merupakan masalah untuk tempat-tempat tujuan wisata, karena wisatawan, terutama dari luar negri, takut terinfeksi malaria dan lebih memilih untuk bepergian ke daerah-daerah yang bebas dari malaria. Karena hal ini berkaitan secara langsung dengan pekerjaannya di Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan, Pak Thamrin Wata memutuskan untuk menjadi anggota POKJA malaria.