Annual Report

Tuesday, 19 March 2019

Kasih Sayang Ayah Melindungi Sakira dan Sahira dari Malaria

Oleh: Dinda Veska – PSFR Communication Officer

Sakira dan Sahira saat dimandikan ayah dan ibunya. @Dinda Veska/UNICEF/2019

Kembar Sahira dan Sakira sedang dimandikan oleh Ayah dan Ibunya ketika Tim UNICEF datang ke rumah mereka di Desa Ligan, - Kabupaten Aceh Jaya. Ibu mereka adalah seorang guru baca Qur'an dan ayahnya - Pak Saidi bekerja untuk untuk dinas sosial sebagai pencatat data kependudukan.

Hutan di area dekat rumah Sakira dan Sahira. @Dinda Veska/UNICEF/2019

Membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam perjalanan dari Kota Banda Aceh menuju Desa Ligan. Rumah mereka terletak hanya sepuluh menit dari area konservasi gajah sumatera, dikelilingi hutan tropis dan juga area penambangan emas. Selain itu banyak juga tempat bersarang induk-induk nyamuk Anopeles, pembawa penyakit malaria pada manusia.

Satu bulan lalu saat Sakira dan Sahira berulang tahun yang pertama, tetangga seberang rumah mereka mengalami sakit malaria, bukan tidak mungkin mereka juga akan tertular. Menurut Dokter Endang Sumiwi - spesialis malaria UNICEF Indonesia, rendahnya imunitas malaria pada balita seperti Sakira dan Sahira menyebabkan potensi sakit berat dan kematian karena malaria lebih tinggi jika mereka tertular malaria. Selain itu malaria pada anak-anak dapat mengakibatkan anemia, stunting  dan terganggunya perkembangan.

Ayah mereka sempat bercerita pengalamannya sakit malaria tahun 2011 lalu  "Rasanya itu sangat sakit, terasa panas di dalam tulang, dingin dan badan menggigil. Saya tidak ingin, anak-anak saya sampai tertular malaria, pasti kasihan sekali." Ujar Pak Saidi.

Sunday, 14 October 2018

Menggenggam erat Yuda dan Ence pasca bencana di Sulawesi

Oleh: Dinda Veska – Donor Content Creator UNICEF Indonesia
Yuda dan Ence bermain bersama di samping tenda pengungsian. ©Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

Jemari Yuda(11) menggenggam erat lengan Ence(6) adik kecilnya yang baru saja bersama-sama mengikuti kegiatan dukungan psikososial. Mereka berjalan pulang berdua, bukan ke rumah tetapi menuju tenda pengungsian, tempat di mana semua anggota keluarganya saat ini tinggal.

“Rumah kami sudah rata dengan tanah kak, sekolah juga. Kami tinggal di sini sekarang.”Ucap Yuda saat sampai di sebuah tenda terpal berwarna biru dengan ukuran lima kali tiga meter. Sore hari itu suhu udara mencapai 31 derajat celcius, sejak lumpur basah menelan rumah mereka dan seluruh Area Petobo, Yuda dan Ence tidak lagi mendapat kenyamanan untuk beristirahat apalagi bermain.

Rumah Ence dan Yuda habis ditelan lumpur di Area Petobo. ©Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

Menurut Ibu mereka, Ence masih sering menangis di malam hari ketika menjelang tidur. “Mungkin masih takut, tapi sudah dua hari ini bermain di tenda sana, dia jadi lebih banyak senyum.”Ibu Heriyanti bercerita sambil menidurkan adik Yuda yang masih bayi.

Monday, 1 October 2018

Kasih Ibu Teresia untuk Alinea sepanjang masa

Oleh: Dinda Veska – Donor Content Creator UNICEF Indonesia
Seorang anak di Kupang dengan HIV positif tertidur dibalik kelambu, ia terinfeksi sejak hari pertama lahir ke dunia.©Shehzad Noorani/UNICEF/2018.

Dari seberang jalan seorang ibu berperawakan besar dengan rambutnya terikat rapih ke belakang, melambaikan tangannya pada saya yang sedikit bingung menerka-nerka sosok Ibu Teresia. 

Tidak sampai 5 menit dari persimpangan Jalan Alak – Kabupaten Kupang, kami tiba di kediaman Ibu Teresia. Beliau mempersilahkan saya tetap memakai sepatu karena khawatir kaus kaki saya akan kotor oleh lantai rumahnya yang erlantaikan semen.

Tidak lama setelah masuk ke ruangan kedua setelah ruang tamu, beliau kembali keluar mengenakan kemeja berwarna kuning bertuliskan Warga Peduli AIDS di bahu sebelah kiri, senyumnya semakin manis dengan gincu merah.

Iya duduk sambil memangku Alinea (2) – anak dengan HIV positif yang belum genap satu tahun diadopsi. “Ibunya meninggal waktu saya sedang mendampingi pasien di rumah sakit.” Jelasnya, seolah paham dengan apa yang ingin segera saya tanyakan.

Ia mengaku jatuh cinta pada Alinea sejak pertama kali melihat Alinea di samping ranjang seorang perempuan dengan HIV positif yang tengah meregang nyawa. Setelah digantikan popok oleh Ibu Teresia, perempuan itu menitipkan Alinea untuk dirawat dan dibesarkan. Sesaat setelah Alinea kehilangan ibunya, Ibu Teresia mendapat persetujuan dari anak dan suami untuk mengadopsi Alinea.

Monday, 24 September 2018

Di 'Pulau Rempah' Ambon Tak Satu Anakpun Boleh Luput Dari Program Vaksin MR


Oleh: Tomi Soetjipto

Satu hari di bulan September adalah hari yang memiliki arti tersendiri bagi anak-anak di Waimahu Passo di kota Ambon, ibukota provinsi Maluku. Ada sekitar 23 anak yang terdaftar untuk menerima vaksin MR, sebagai bagian dari kampanye nasional imunisasi untuk 31,9 juta anak. Terletak di Indonesia bagian timur ini, Ambon adalah bagian dari kepulauan Maluku yang terkenal dan pernah menjadi tujuan utama negara-negara penjajah untuk mencari rempah-rempah. 

Dengan penuh keyakinan bak seorang tentara, Jupe Rusmani, empat tahun, masuk ke ruangan kecil yang dipenuhi oleh para pekerja kesehatan yang memegang jarum suntik.  Ketenangannya mengejutkan semua orang, termasuk Ibu Jupe, Nor Rusmani yang menunggu di luar sambil tersenyum lega. 
Armendo Fransesco menerima vaksin Campak & Rubella (MR)
©Fauzan Yo/UNICEF Indonesia/2018

"Berani sekali kamu nak," ujar salah seorang perawat sebelum ia menyuntikkan vaksin penyelamatan dan Campak dan Rubella (MR) pada lengan kiri atas Jupe. Ketika ditanya oleh bibinya apakah ia merasakan sakit, Jupe menggeleng dengan tegas. 

Thursday, 16 August 2018

Laporan Tahunan UNICEF Indonesia 2017

Selamat Datang di Laporan Tahunan UNICEF Indonesia 2017

Silakan undah laporannya disini: Bahasa Indonesia English
TUJUAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (SDGs) DIMULAI DARI ANAK
Dalam kata pengantarnya, Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia, Gunilla Olsson menyebutkan beberapa program yang dapat dibaca atau ditonton dibawah ini.
  
 





Di UNICEF, kami percaya bahwa pembangunan berkelanjutan berawal dari anak dan tahun ini kami selangkah lebih dekat untuk menjadikan kepentingan anak lebih terlihat dalam SDGs. Bersama dengan pemerintah, kami telah menerbitkan Laporan Baseline SDG tentang Anak-Anak di Indonesia, sebagai bukti yang dapat digunakan untuk mendukung pengambilan kebijakan. Silakan unduh laporannya disini
Bahasa Indonesia
English
SDG Online Dashboard

Wednesday, 1 August 2018

Susah Air


Oleh: Firza Daud, Fundraiser Coordinator UNICEF Indonesia

Sumba adalah salah satu pulau yang kini menjadi destinasi wajib untuk dikunjungi oleh para petualang di Indonesia.

Ironisnya di balik semua lanskap keindahan yang tersaji di pulau Sumba, masih juga ditemukan beberapa kesulitan terutama yang berhubungan dengan kebutuhan pokok hidup, yang ada di pulau yang secara administratif menjadi bagian dari wilayah propinsi Nusa Tenggara Timur.

Salah 1 kesulitan yang hingga saat ini masih menjadi masalah utama di pulau Sumba adalah tentang pasokan air bersih dan sanitasi. Kedua hal ini akan sangat erat berkaitan terutama dalam kehidupan sehari-hari, karena apabila kebutuhan air bersih untuk sebuah komunitas masyarakat di suatu daerah tidak dapat tercukupi dengan baik maka bisa dipastikan sanitasi yang ada di wilayah itu secara otomatis akan ikut terkena dampaknya. Dan dampaknya  tidak bisa dipungkiri, anak-anak akan menjadi salah 1 korban yang paling dirugikan sebagai bagian dari komunitas masyarakat yang ada di wilayah tersebut.

Friday, 27 July 2018

Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik



Oleh: Wikan Pribadi, Digital Fundraising Officer

Dalam kehidupan sehari-hari manusia membutuhkan Air dalam siklus kehidupannya, oleh karena itu pasokan ketersedian air sangatlah penting. Di suatu lokasi tertentu mungkin untuk mendapatkan sumber air yang bersih cukuplah mudah, namun di banyak lokasi lainnya bukan merupakan hal yang mudah untuk mendapatkan air, apalagi air yang bersih. Untuk dapat menjaga sumber dan pasokan air yang bersih dan sehat, perlu pula diperhatikan bagaimana Sanitasi Lingkungan di sekitarnya. Sanitasi merupakan satu hal penting yang diperlukan untuk masyarakat dalam suatu lingkungan, untuk menuju kehidupan yang lebih baik, yang lebih layak dan yang lebih sehat. Bagaimana menyediakan air bersih dan sanitasi yang baik untuk linkungan dan masyarakat, terutamanya untuk anak-anak, adalah kebutuhan dasar yang perlu diperhatikan dan merupakan tanggung jawab bersama semua pihak, agar dapat terwujud dan terlaksana.


Permasalahan yang terlihat sederhana namun memiliki dampak yang cukup besar dan luas, yaitu BABS (Buang Air Besar Sembarangan), masih banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesia, sebut saja misalnya di daerah kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Bagaimana Pemerintah Daerah dan Perangkat Desa di daerah tersebut, melakukan Deklarasi Komitmen Bersama Persepatan Desa ODF (Open Defecation Free atau Stop Buang Air Besar Sembarangan) Kabupaten Sumba Barat Daya, yang ditanda tangani di Tambolaka pada 26 Januari 2017 tahun lalu.

Thursday, 17 May 2018

Tablet Tambah Darah untuk Generasi Cemerlang

Oleh: Anta Maulana S, Fundraiser UNICEF Indonesia

3 Remaja putri yang mendapatkan program kesehatan remaja serta Tablet Tambah Darah. ©Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

Kata orang, masa remaja adalah masa yang paling indah. Mungkin benar adanya, karena pada masa ini kita berkesempatan untuk melakukan apapun yang kita inginkan apapun yang kita cita-citakan sewaktu kecil. Tentunya dalam masa ini pula kita akan tumbuh dan berkembang dan akan bertemu dengan hal-hal yang menyenangkan maupun tantangan lainnya.

Siapkah kita?
Berdasarkan hasil survey Riskesdas tahun 2007, 37% remaja putri kita menderita anemia. Anemia adalah keadaan dimana seseorang memiliki kadar sel darah merah / haemoglobin nya berada di bawah batas normal atau biasa kita sebut dengan “kurang darah”. Apabila seseorang menderita anemia maka ia akan mudah sakit/daya tahan tubuh menurun, menurunya aktifitas/lemas/lesu kurang konsentrasi pada saat belajar, terhambatnya pertumbuhan, bahkan bagi para remaja putri ini akan dapat menyebabkan kematian akibat pendarahan pasca melahirkan.

Wednesday, 16 May 2018

STOP Mengorbankan Anak-anak!


Oleh: Dinda Veska, PSFR Communication Officer

“Aku menangis, tapi hanya sedikit.” Ucap Mohammad (4) beberapa saat sebelum menerima imunisasi di camp Pengungsi Rohingya – Bangladesh. @Thomas Nybo/Bangladesh/2018

Sejatinya seorang anak dilahirkan ke dunia untuk mendapat hidup yang layak, dipersiapkan masa depannya, serta dilindungi oleh setiap ayah dan ibunya. Tapi tidak bagi mereka yang setiap hari dihadapkan pada senapan dan senjata rudal, tempat berbaring yang nyaman tidak didapatkan oleh anak-anak yang lahir di negara konflik. Hak mereka atas gizi dan kesehatan tidak terpenuhi dengan perang dan kekerasan.

Anak-anak selalu menjadi korban yang paling menderita di tengah situasi darurat. Baru-baru ini di Indonesia anak-anak dikorbankan untuk sebuah tindak kekerasan, bulan maret lalu kita juga melihat anak-anak terbunuh dan teluka di Gaza. Awal tahun 2018 anak-anak di Yaman menjadi korban konflik, sehingga 4 Juta anak mengalami kelaparan. Akhir tahun 2017 anak-anak Rohingya harus mengungsi untuk menghindari kekerasan. Di seluruh dunia anak-anak terus dikorbankan, diserang, dan merasakan penderitaan berkepanjangan.

Salah satu dari anak-anak tersebut adalah Mohammad, seorang anak pengungsi Rohingya yang harus siap menjalani ibadah puasa pertamanya jauh dari kampung halaman. Mohammad yang masih berusia lima tahun memasuki camp pengungsi Rohingya sejak akhir tahun 2017 kemarin. Berkilo-kilo meter ia jalan menjauhi kampung halaman, berharap menemukan tempat tinggal baru yang jauh dari ancaman kematian.

Tuesday, 24 April 2018

Cerita dari Bone

Oleh: Vyona, Fundrasider UNICEF Indonesia

Program Kembali ke Sekolah merupakan salah satu program UNICEF, yang berupaya mengembalikan kembali hak anak-anak yang putus sekolah di pedalaman. Mulai dari faktor ekonomi, maupun dari faktor pernikahan dini dan lain sebagainya.

Pada kesempatan ini, saya Vyona, salah satu Fundraiser UNICEF akan berbagi cerita tentang kunjungan lapangan bersama rekan-rekan kerja saya.

Kunjungan lapangan yang saya jalankan ke Bone, Sulawesi Selatan bersama 3 rekan fundraiser Saya (Intan Kamalia, Geraldy Candrawan, Niken Tamsil) terlaksana mulai tanggal 18 April 2018 sampai dengan 20 April 2018.

Hari Pertama
Terhitung mulai pukul 04:00 WIB, Saya bersama rekan memulai perjalanan kami dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta ke Bandara Sultan Hassanudin, Makassar. Sekitar kurang lebih 2 jam, Saya bersama tim pun sampai di Makassar dengan selamat. Namun, perjalanan yang harus kami tempuh ternyata masih cukup panjang, sesampainya di Makassar, kami harus menempuh 6 jam perjalanan dengan mobil dan melalui jalan yang penuh liku, gunung-gunung, jalan yang cukup sempit yang bahkan masih diapit oleh hutan alami dengan habitat alaminya. 

Tuesday, 17 April 2018

"Saya ingin jadi polisi!" dibalik keberhasilan Gerakan Kembali Bersekolah

Oleh: Dinda Veska, PSFR Communication Officer

Gunawan (9) terinspirasi ingin menjadi poiisi berkat Gerakan Kembali ke Sekolah. Mamuju @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

Gunawan menangis ketika saya tanyakan ingin jadi apa kelak di masa depan, air matanya tumpah sambil kemudian menjawab "Ingin jadi polisi." Tangisannya bukan karena rasa takut seorang anak yang bertemu dengan orang baru, tapi ada cerita yang ia lanjutkan sambil mengharu biru. "Saya ingin menjadi seperti bapak polisi yang membantu saya kembali ke sekolah."

Dua tahun lalu neneknya meninggal dunia, satu-satunya orang yang mendukung dan mengusahakan agar Gunawan dapat tetap bersekolah. "Nenek sudah tidak ada, jadi saya tidak bisa terus belajar lagi di sekolah, rumah saya juga jauh." Cerita Gunawan yang setiap hari harus berjalan kaki dari rumah hampir 4 kilometer untuk sampai ke sekolah. Jika pendidikan adalah eskalator untuk seorang anak memperbaiki nasibnya, maka pupuslah harapan Gunawan di hari ia putus sekolah. Keinginannya untuk membuat bangga sang nenek pun menjadi mustahil, karena satu-satunya pilihan di depan mata saat itu adalah menganggur.

November 2017, Gerakan Kembali Bersekolah yang merupakan tindak lanjut dari program SIPBM (Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat) kembali dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Mamuju. Lebih dari 3200 anak telah dijangkau dan dikembalikan ke sekolah. Gunawan dan beberapa anak lainnya dijangkau oleh pihak kepolisian setempat - yang telah mendapat pelatihan dari UNICEF Indonesia untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan membantu setiap anak agar kembali mendapatkan haknya atas pendidikan.

Thursday, 25 January 2018

Mengubah Hidup Melalui Toleransi

Oleh: Kate Watson

“Moshi moshi, Ola ola, hello, apa kabar?” Ruang kelas itu ramai dengan murid lelaki dan perempuan yang sedang berdiri, tertawa, dan berbincang meriah. Mereka baru saja mempelajari lagu dan gerakan (“Halo, apa kabar?” dalam berbagai bahasa) yang digunakan sebagai pengantar untuk berkenalan dan mengobrol dengan teman baru.

Meski baru berjalan tiga bulan di SMA Negeri 2 Kabupaten Sorong, namun program Pendidikan Kecakapan Hidup Sehat (PKHS) sudah menunjukkan hasil positif sebagaimana tampak dari kepercayaan diri para murid.

“Semuanya menarik dan permainannya seru!” kata Dwirizki Sandola, 17 tahun. “Kami dibantu mengekspresikan diri – kami bisa mengutarakan keinginan dan meminta sesuatu hal!” tambahnya. Tidak banyak kesempatan yang diberikan pada murid-murid Indonesia untuk berpendapat di ruang kelas. Partisipasi dalam kegiatan seperti PKHS membantu mereka menemukan ‘suara’ dan merasa berdaya.

Menghadirkan serangkaian topik mengenai kecakapan hidup, PKHS mendorong anak-anak muda berdiskusi dan belajar melalui permainan, kuis, contoh kasus, dan debat. Setiap sesi mengangkat satu topik, seperti menghadapi konflik dan memahami emosi, serta topik seperti perundungan dan gender. Ada pula topik tentang risiko tertentu seperti narkoba, kehamilan yang tidak diinginkan, dan HIV.


“Sebelum ada PKHS, banyak dari kami yang bergaul dengan kelompok yang tidak baik atau berada dalam situasi negatif,” terang Dwirizki. “Tapi, PKHS menunjukkan risiko yang kami hadapi kelak.”


Wednesday, 20 December 2017

Obat Gizi untuk Ulang Tahun Pertama Julriska

Oleh: Dinda Veska – PSFR Communication Officer


Julriska (1) Berhasil melewati masa kritisnya akibat kondisi sangat kurus.
@Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2017

Beberapa minggu sebelum hari ulang tahun pertamanya, Julriska mengalami demam disertai dengan gatal-gatal di badan dan juga kehilangan nafsu makan. Ketika diperiksakan ke Puskesmas Oelbiteno, Kupang – Nusa Tenggara Timur, dinyatakan oleh petugas kesehatan bahwa Julriska mengalami kondisi sangat kurus, saat itu berat badannya hanya mencapai 7,1 Kg.

Kondisi sangat kurus rentan terjadi pada dua tahun pertama kehidupan seorang anak. Di usia tersebut kebutuhan gizi sedang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang dan sistem imunitas anak-anak seperti Julriska.

“Saya sangat sedih ketika dijelaskan oleh bidan tentang sakitnya Julriska.” Ungkap Ibu Vonita sambil menyuapi Obat Gizi yang berbentuk pasta kacang kepada anak perempuannya.

Monday, 4 December 2017

Di Papua Barat, bidan menjadi kunci menghentikan penyebaran HIV

Oleh Cory Rogers, UNICEF Indonesia Communication Officer


Stevlin menjalani USG di Puskesmas Sorong, Papua Barat.
Sorong: Stevlin, 32, ibu dari lima anak, berbaring di atas dipan pemeriksaan diiringi dengung mesin USG.
Tak lama kemudian, suara detak jantung mengisi ruangan. Stevlin tersenyum lebar: mendengar denyut jantung calon bayi untuk pertama kalinya merupakan pengalaman yang unik.
Untuk pemeriksaan kehamilan itu, Stevlin datang ke Puskesmas Malawei di Sorong, Provinsi Papua Barat.
“Saya harus pastikan kehamilan berjalan lancar agar bayi saya dapat lahir dengan sehat,” katanya. Kedua alisnya bertaut. Pada awal tahun 2000, Stevlin pernah kehilangan seorang anak akibat komplikasi penyakit. Kini, ia bertekad berusaha semampu mungkin untuk memastikan kesehatan sang bayi. Artinya, Stevlin harus mengonsumsi makanan sehat, berolahraga, cukup beristirahat, dan menjalani pemeriksaan kesehatan—terutama HIV.
“Di Papua Barat, risiko HIV 15 kali lebih tinggi dari rata-rata nasional. Menjalani tes HIV wajib bagi para ibu mengandung di sini,” kata Beth Nurlely, UNICEF Indonesia Health Officer di Papua Barat. Tanpa pengobatan, 1 dari 3 anak berisiko tertular HIV dari ibu. Namun begitu, di Indonesia, hanya 14 persen ibu yang pernah melakukan tes penting itu.

Monday, 27 November 2017

Bilik Jamban untuk Marlende

Oleh: Dinda Veska - PSFR Communication Officer



Marlende (12) di depan bilik toilet rumah. @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2017

Sumba, pulau yang terkenal dengan kekayaan alam, pantai-pantai dengan pasir putih dan bersih, savanna terbentang sepanjang mata memandang. Surga yan gsangat memanjakan untuk para wisatawan, tetapi tidak untuk kesehatan anak-anak yang lahir dan tumbuh besar di pulau ini.


Marlende, satu dari ratusan anak di Desa Redapada yang sejak kecil hingga usia 12 tahun melakukan buang air besar di belakang rumahnya, di tempat terbuka tanpa bilik penutup, lubang penampungan  ataupun air bersih.


Tidak jarang ia mengalami diare, panas tinggi, dan penyakit-penyakit lainnya. Selain Marlende, 7 dari 10 anak yang saya temui di SD Lolaramo - Sumba Barat Daya, mengaku sering mengalami diare sebelum mendapat akses toilet dan air bersih di sekolah. Padahal diare menjadi penyebab 1400 anak di dunia meninggal setiap harinya.

Monday, 6 November 2017

Isto, Agen Perubahan Kebersihan Menstruasi

Oleh: Dinda Veska, PSFR Communication Officer

Isto (11) menjadi agen perubahan di sekolahnya untuk melindungi anak-anak perempuan dari ejekan-ejekan soal menstruasi. @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2017


Terik matahari di Sumba Barat daya hari itu cukup menyengat kulit, siswa-siswi SD Lolaramo berlarian ke tengah lapangan dan bersiap untuk berlatih ekstra kurikuler tarian daerah. Mereka berbaris rapih, memberikan senyumnya lebar-lebar kepada para guru.

Di tengah-tengah latihan, seorang anak perempuan terlihat pucat dan meminta izin untuk istirahat sebentar. Isto (11) menawarkan diri untuk menemaninya ke ruang UKS. Mengetahui teman perempuannya sedang mengalami menstruasi, Isto melempar sedikit guyonan sambil jalan berdua menuju ruang UKS. Ia berpikir itu dapat sedikit mengalihkan rasa sakit di perut temannya.

“Menstruasi itu tanda ketika anak perempuan sudah tumbuh dewasa kak! Sebagai anak laki-laki aku harus siap membantu dan tidak boleh mengejek.” Seru Isto ketika di ruang kelas saya bertanya apa itu menstruasi.

Tuesday, 17 October 2017

#GirlsTakeOver: Remaja bertindak untuk mengakhiri perkawinan usia anak

By Fadilla Dwianti, Child Protection Officer


21 remaja terpilih yang berasal dari 12 provinsi berpose bersama Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lenny N. Rosalin, Kepala Perlindungan Anak UNICEF Amanda Bissex, dan Direktur Plan International Indonesia Myrna Remata-Evora.©UNICEF/Fadilla Putri/2017 


Bukan hal aneh jika Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia berpidato di Hari Anak Perempuan Internasional.
Kecuali tahun ini, menteri tersebut adalah seorang anak perempuan berusia 19 tahun.

Dimulai dari beberapa hari sebelumnya, 21 remaja berusia 15-19 tahun dari seluruh Indonesia berkumpul untuk Pelatihan Kepemimpinan selama tiga hari yang dilaksanakan oleh Plan Indonesia, UNICEF, Jaringan untuk Remaja Perempuan Indonesia (AKSI) dan Youth Coalition for Girls. Tujuannya adalah untuk mendiskusikan masalah perkawinan usia anak dan meningkatkan kemampuan mereka dalam bidang komunikasi, advokasi dan kepemimpinan, yang kesemuanya bertujuan untuk mempersiapkan mereka “mengambil alih” Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak selama satu hari.

Friday, 22 September 2017

RapidPro: senjata rahasia di balik kampanye Campak-Rubella

By Cory Rogers, Communications Officer

Fatul dan Akhsan di Posyandu memamerkan ibu jari ungu yang menandakan seorang anak telah menerima vaksin MR © Cory Rogers / UNICEF / 2017

Semarang:
“Istri saya karyawan pabrik garmen. Jam kerjanya pagi hingga siang, saya bekerja malam,” kata Fathul, warga Regunang—desa teduh yang terbentang naik dan turun di Jawa Tengah. Gunung Merbabu berketinggian 3.145 m perlahan terlihat menjulang dari sela-sela lembah.


“Hari ini, hanya saya yang mengantar.”

Meski menjadi satu-satunya pasangan ayah-anak di halaman Posyandu pada hari itu, Fathul dan putranya yang berusia 3 tahun, Akhsan, tidak nampak jengah. Sama seperti 30 pasang ibu-anak lainnya di sana, mereka datang untuk mendapatkan vaksin Campak dan Rubella (MR)—dua penyakit yang meskipun dapat dicegah, namun bisa menimbulkan dampak fatal bagi anak yang terjangkit. 

“Sakit?” tanya Fathul pada Akhsan yang sedang asyik mengamati sekumpulan anak-anak balita lain—tampak antara takut dan lega—seolah terpukau melihat hiruk-pikuk di sekelilingnya. Menjawab pertanyaan ayahnya, Akhsan hanya menggelengkan kepala. “Dia tidak menangis!” seru Fathul bangga. “Sama sekali tidak!”

Situasi serupa saat ini tengah berlangsung ribuan kali di seluruh Jawa setelah Pemerintah menargetkan 35 juta anak usia 9 bulan hingga 15 tahun mendapatkan imunisasi MR pada akhir September. Tahun depan, 35 juta anak lain di luar Jawa menanti layanan yang sama. Menilik jumlah anak yang menjadi sasaran, kegiatan ini adalah kampanye imunisasi Pemerintah yang terbesar hingga sekarang.

© 2017 Globe Media Lt

Dalam waktu enam pekan sejak kampanye berdurasi dua bulan ini dimulai, sebanyak lebih dari 30 juta anak telah diimunisasi. Tak lama lagi, target penerima vaksin dapat dicapai. Menurut para tenaga kesehatan, perangkat teknologi baru bernama RapidPro—alat pemantauan kesehatan tanpa biaya, berbasis SMS, dan bersifat mobil yang dikembangkan UNICEF—menjadi penentu keberhasilan yang penting. 

“RapidPro membantu kami mendapatkan informasi [cakupan imunisasi] dengan segera, dan masalah dapat langsung terlihat,” kata Ibu Ani, kepala Dinas Kesehatan Semarang—kabupaten tempat Akhsan berada. RapidPro telah diujikan di Jakarta beberapa tahun yang lalu, namun inilah kali pertama perangkat ini digunakan secara meluas hingga tingkat nasional oleh Pemerintah. 

“Teknologi ini sederhana dan mudah digunakan,” lanjut Ibu Ani. “Selain itu cepat dan akurat.”

Seperti apa Peran RapidPro?

Sejak kampanye MR diresmikan pada awal Agustus, RapidPro menyediakan analisis cakupan imunisasi secara langsung di tingkat Puskesmas. Pulau Jawa memiliki 3.617 Puskesmas, dan analisis cakupan belum pernah mencapai tingkat perincian seperti sekarang ini.

Di Puskesmas, terdapat tenaga khusus yang bertugas memeriksa jumlah anak yang sudah diimunisasi dengan cara mengunjungi sekolah di area Puskesmas (pada fase Agustus untuk anak usia 6-15 tahun) atau Posyandu (pada fase September untuk bayi dan balita). Hasil berupa data angka dikirimkan via SMS ke basis data pusat di Jakarta.

Data tersebut—yang bisa ditampilkan berdasarkan hari, pekan, atau bulan—diunggah ke panel utama (dashboard) RapidPro. Pengguna dashboard dapat melihat semacam skor yang menunjukkan provinsi, kabupaten, dan Puskesmas yang memenuhi target imunisasinya. Setiap Puskesmas dan kabupaten memiliki kode tersendiri sehingga masalah yang muncul dapat dengan cepat dipetakan.

Petugas bagian imunisasi Dinas Kesehatan Semarang Ibu Kinanti dan Pak Dijat mencocokkan entri RapidPro dari 26 Puskesmas dengan data yang dikumpulkan secara manual dari lapangan. Proses ini berlangsung bersamaan dengan pengumpulan data lapangan © Cory Rogers / UNICEF / 2017

“Dengan mengetahui data secara terbuka, proses kerja juga menjadi lebih akuntabel. Jika ada unit yang tertinggal, hal ini menjadi lebih mudah diketahui, sampai ke tingkat Puskesmas,” jelas Made Suwancita, pengelola RapidPro dari UNICEF Indonesia. “Dalam hal kampanye MR, pemantauan semacam ini turut mendorong kompetisi sehat antar-pemerintah daerah dan membantu memastikan tidak ada anak yang terlewat.”

Made dan tiga staf lain dari UNICEF juga mengelola layanan aduan dan bantuan Rapidpro; namun, seiring dengan berjalannya kampanye, banyaknya pertanyaan semakin berkurang.

Menurut Susmiyati, koordinator imunisasi di Puskesmas Tangeran, Kabupaten Semarang (satu dari 26 Puskesmas yang berada di bawah Dinas Kesehatan Semarang), “tantangan RapidPro sebetulnya hanya di jaringan yang terkadang tidak stabil. Ada kalanya, SMS sulit terkirim. Selain dari itu, prosesnya cukup jelas dan tidak rumit.”

Susmiyati juga memuji kemampuan RapidPro mengatasi banyak kekurangan yang biasa dijumpai pada sistem kerja manual menggunakan kertas.

Dalam program-program imunisasi terdahulu, data cakupan dicatat secara manual di setiap Puskesmas kemudian dikirim ke tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional. Proses ini dapat memakan waktu berhari-hari dengan risiko kesalahan yang tinggi. RapidPro menghapus proses yang tidak efisien ini sekaligus menghadirkan tabulasi data secara otomatis.

Dengan RapidPro, administrator dapat memberi tanggapan terhadap masalah dengan segera, kata Ibu Ani dari Dinas Kesehatan Semarang.

Ibu Ani di luar kantornya di Ungaran, Semarang © Cory Rogers / UNICEF / 2017

Satu contoh yang diberikan Ibu Ani adalah ketika salah satu dari 26 Puskesmas di Kabupaten Semarang menunjukkan angka cakupan lebih rendah dari yang diperkirakan. Puskesmas langsung dihubungi dan kendala pun diketahui: separuh orangtua di sebuah pesantren dengan murid 1.000 anak khawatir vaksin MR adalah haram. Akibatnya, mereka tidak mengizinkan anak-anaknya menerima imunisasi.Tidak hanya di Semarang, penolakan semacam ini juga muncul di sejumlah wilayah lain Jawa. Sebagai respon, tokoh agama dan masyarakat menemui para orangtua secara langsung dan menyakinkan mereka bahwa imunisasi tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam.

“[Berkat RapidPro] saya dapat mengetahui akar masalah dengan segera,” ucap Ani, “dalam waktu 24 jam kami sudah menuju ke sana [ke sekolah]. Dulu, untuk tahu ada masalah saja butuh waktu berminggu-minggu.”

Menjelang akhir kampanye, semakin terasa peran RapidPro membantu para pejabat pemerintah menyelesaikan masalah dan memastikan setiap anak mendapatkan vaksin MR—vaksin yang dapat melindungi anak dari dampak fatal penyakit.

“Di era modern ini kita harus memanfaatkan teknologi informasi agar bisa mendapatkan informasi secara langsung dan tahu jika ada masalah,” tegas Ani.

“Menurut saya, RapidPro bisa digunakan untuk banyak hal lain.”

Bayi dan balita bersama orangtua mereka di Desa Regunang, ceria setelah mendapatkan vaksin MR. Desa ini adalah satu dari ribuan desa lain di Jawa yang menjadi sasaran program imunisasi terbesar Pemerintah hingga saat ini dan dilaksanakan dengan bantuan RapidPro, teknologi kesehatan mobil dari UNICEF © Cory Rogers / UNICEF / 2017



Monday, 11 September 2017

Belajar untuk Bermain, Bermain untuk Belajar di Jawa Barat

By Cory Rogers, Communication Officer


Alifah bermain dengan ibu di sekolah.© Cory Rogers / UNICEF / 2017

Bogor: “Di sini, saat mewarnai harus pelan-pelan, karena Alifah suka sekali sampai-sampai tidak mau berhenti,” ujar Neng Selphia, 29 tahun, salah seorang guru di Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak (KB/TK) Aisyayah Baiturrahman, Kecamatan Leuwiliang, Jawa Barat.

Alifah yang pemalu nampak gembira saat tiba pelajaran mewarnai dan menggambar. Dari semua warna, ia mengaku favoritnya adalah warna merah.

Waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Matahari bersinar terik dan udara lembap terasa panas menyengat. Bersama anak-anak usia empat tahun lainnya, Alifah duduk di lantai menikmati sarapan bubur ayam. Tak jauh darinya, ibu Alifah menunggui sang anak dengan penuh kasih sayang.

Monday, 28 August 2017

Menuju Rumah Bebas Asap di Kalimantan

By Cory Rogers, Communication Officer


Bahan-bahan sederhana digunakan untuk menguji keampuhan metode pencegahan asap berbiaya murah bersama mitra di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, salah satu wilayah terdampak kabut asap.© Cory Rogers / UNICEF / 2017


Palangka Raya: Bagi warga Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kabut asap begitu mengganggu hingga terkadang sulit menemukan jalan pulang.

“Saya bekerja sebagai nelayan,” kata Ipung. Ayah dua anak bertubuh ramping ini tinggal di tepi Sungai Rungan, sekitar 40 menit ke arah hulu dari Palangka Raya. “Kabut asap mengganggu kehidupan kami; anak-anak tidak bisa bersekolah dan kami semua mengalami batuk.”

Desa Katimpun tempat Ipung tinggal terletak dekat dengan wilayah gambut yang terbakar tiap tahun dan membuat sebagian kawasan Kalimantan—yang masuk wilayah teritorial Indonesia—diselubungi kabut asap. Sejak tahun 2016, UNICEF terlibat mencari cara untuk membantu menjaga anak dan keluarga seperti Ipung aman dari asap berbau itu.